‼️ HUKUM MENGOLOK-OLOK AGAMA ‼️
Berkata Syaikh Sholih Al Fauzan hafidzohulloh:
في بيان حكم الاستهزاء بالدين والاستهانة بحرماته الاستهزاء بالدين ردة عن الإسلام، وخروج عن الدين بالكلية. قال الله تعالى: {قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ - لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ} [التوبة: ٦٥ - ٦٦]
هذه الآية: تدل على أن الاستهزاء بالله كفر. وأن الاستهزاء بالرسول كفر، وأن الاستهزاء بآيات الله كفر، فمن استهزأ بواحد من هذه الأمور فهو مستهزئ بجميعها. والذي حصل من هؤلاء المنافقين أنهم استهزءوا بالرسول وصحابته فنزلت الآية. فالاستهزاء بهذه الأمور متلازم، فالذين يستخفون بتوحيد الله تعالى ويعظمون دعاء غيره من الأموات. وإذا أمروا بالتوحيد ونهوا عن الشرك استخفوا بذلك. كما قال تعالى: {وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا - إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا} [الفرقان: ٤١ - ٤٢]
فاستهزءوا بالرسول صلى الله عليه وسلم لما نهاهم عن الشرك. وما زال المشركون يعيبون الأنبياء ويصفونهم بالسفاهة والضلال والجنون إذا دعوهم إلى التوحيد. لما في أنفسهم من تعظيم الشرك. وهكذا تجد من فيه شبه منهم إذا رأى من يدعو إلى التوحيد استهزأ بذلك لما عنده من الشرك. قال الله تعالى: {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ} [البقرة: ١٦٥]
فمن أحب مخلوقا مثل ما يحب الله فهو مشرك. ويجب الفرق بين الحب في الله والحب مع الله، فهؤلاء الذين اتخذوا القبور أوثاناَ تجدهم يستهزءون بما هو من توحيد الله وعبادته، ويعظمون ما اتخذوه من دون الله شفعاء، ويحلف أحدهم اليمين الغموس كاذبا ولا يجترئ أن يحلف بشيخه كاذبا. وكثير من طوائف متعددة ترى أحدهم يرى أن استغاثته بالشيخ إما عند قبره أو غير قبره أنفع له من أن يدعو الله في المسجد عند السَّحَر.
ويستهزئ بمن يعدل عن طريقته إلى التوحيد. وكثير منهم يخربون المساجد ويعمرون المشاهد. فهل هذا إلا من استخفافهم بالله وبآياته ورسوله وتعظيمهم للشرك وهذا كثير وقوعه في القبوريين اليوم.
والاستهزاء على نوعين: أحدهما: الاستهزاء الصريح كالذي نزلت الآية فيه وهو قولهم: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا. ولا أكذب ألسنا ولا أجبن عند اللقاء. أو نحو ذلك من أقوال المستهزئين. كقول بعضهم: دينكم هذا دين خامس. وقول الآخر: دينكم أخرق. وقول الآخر إذا رأى الآمرين بالمعروف والناهين عن المنكر: جاءكم أهل الدين. من باب السخرية بهم. وما أشبه ذلك مما لا يحصى إلا بكلفة مما هو أعظم من قول الذين نزلت فيهم الآية.
النوع الثاني: غير الصريح، وهو البحر الذي لا ساحل له - مثل الرمز بالعين. وإخراج اللسان ومد
الشفة. والغمز باليد عند تلاوة كتاب الله أو سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وعند الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ومثل هذا ما يقوله بعضهم: إن الإسلام لا يصلح للقرن العشرين - وإنما يصلح للقرون الوسطى. وأنه تأخر ورجعية. وأن فيه قسوة ووحشية في عقوبات الحدود والتعازير. وأنه ظلم المرأة حقوقها حيث أباح الطلاق وتعدد الزوجات؛ وقولهم: الحكم بالقوانين الوضعية أحسن للناس من الحكم بالإسلام. ويقولون في الذي يدعو إلى التوحيد وينكر عبادة القبور والأضرحة: هذا متطرف. أو يريد أن يفرق جماعة المسلمين. أو هذا وهابي أو مذهب خامس. وما أشبه هذه الأقوال التي كلها سب للدين وأهله واستهزاء بالعقيدة الصحيحة ولا حول ولا قوة إلا بالله. ومن ذلك استهزاؤهم بمن تمسك بسنة من سنن الرسول صلى الله عليه وسلم فيقولون: الدين ليس في الشعر استهزاء بإعفاء اللحية - وما أشبه هذه الألفاظ الوقحة.
[صالح الفوزان ,التوحيد للفوزان ,ص: ٥٩-٦٢]
Penjelasan tentang hukum memperolok-olok agama dan meremehkan perkara-perkara yang dimuliakannya
Memperolok-olok agama adalah kemurtadan dari Islam dan keluar dari agama secara keseluruhan.
Alloh Ta‘ala berfirman:
> “Katakanlah: Apakah terhadap Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian selalu berolok-olok? Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.”
(QS. At-Taubah: 65–66)
Ayat ini menunjukkan bahwa memperolok-olok Alloh adalah kekufuran, memperolok-olok Rosul adalah kekufuran, dan memperolok-olok ayat-ayat Alloh adalah kekufuran. Maka, siapa saja yang memperolok-olok salah satu dari perkara-perkara tersebut, berarti dia telah memperolok-olok semuanya.
Adapun yang dilakukan oleh orang-orang munafik tersebut adalah bahwa mereka memperolok-olok Rosul dan para sahabatnya, maka turunlah ayat tersebut.
Dengan demikian, memperolok-olok perkara-perkara tersebut saling berkaitan.
Orang-orang yang meremehkan tauhid kepada Alloh Ta‘ala dan mengagungkan doa kepada selain-Nya dari kalangan orang-orang yang telah meninggal, apabila mereka diperintahkan untuk bertauhid dan dilarang dari kesyirikan, mereka meremehkan hal tersebut.
Sebagaimana Alloh Ta‘ala berfirman:
> “Dan apabila mereka melihatmu, mereka hanyalah menjadikanmu sebagai ejekan (dengan mengatakan), ‘Apakah ini orang yang diutus Alloh sebagai seorang rosul? Sungguh, hampir saja dia menyesatkan kita dari sesembahan-sesembahan kita, seandainya kita tidak tetap sabar terhadapnya.’”
(QS. Al-Furqon: 41–42)
Mereka memperolok-olok Rosul ﷺ ketika beliau melarang mereka dari kesyirikan.
Orang-orang musyrik senantiasa mencela para nabi dan menyifati mereka dengan kebodohan, kesesatan, dan kegilaan ketika para nabi menyeru mereka kepada tauhid. Hal itu disebabkan karena di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap kesyirikan.
Demikian pula, engkau akan mendapati orang yang memiliki kemiripan dengan mereka. Apabila dia melihat orang yang menyeru kepada tauhid, dia memperolok-olok seruan tersebut karena apa yang ada pada dirinya berupa kesyirikan.
Alloh Ta‘ala berfirman:
> “Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Alloh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh.”
(QS. Al-Baqoroh: 165)
Maka, barang siapa mencintai makhluk sebagaimana dia mencintai Alloh, berarti dia adalah orang musyrik.
Dan wajib dibedakan antara mencintai karena Alloh dan mencintai bersama Alloh.
Orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai berhala, engkau akan mendapati mereka memperolok-olok sesuatu yang termasuk tauhid kepada Alloh dan ibadah kepada-Nya, sementara mereka mengagungkan apa yang mereka jadikan sebagai pemberi syafaat selain Alloh.
Salah seorang dari mereka bahkan berani melakukan sumpah ghamūs—yaitu bersumpah dengan sumpah palsu yang menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa—dengan berdusta, tetapi dia tidak berani bersumpah dengan nama syaikhnya dalam keadaan berdusta.
Dan banyak dari berbagai kelompok, engkau akan melihat salah seorang dari mereka menganggap bahwa meminta pertolongan kepada syaikhnya, baik di sisi kuburnya maupun di tempat selain kuburnya, lebih bermanfaat baginya daripada berdoa kepada Alloh di masjid pada waktu sahur.
Dan dia memperolok-olok orang yang meninggalkan jalannya (mereka) dan beralih kepada tauhid.
Banyak di antara mereka yang merusak masjid-masjid dan membangun tempat-tempat yang diagungkan berupa tempat-tempat ziarah.
Maka, apakah ini kecuali karena mereka meremehkan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya, serta mengagungkan kesyirikan?
Hal seperti ini banyak terjadi pada orang-orang yang mengagungkan kuburan pada zaman sekarang.
Memperolok-olok ada dua macam
Pertama: memperolok-olok secara terang-terangan, seperti yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut, yaitu perkataan mereka:
> “Kami tidak pernah melihat orang-orang seperti para pembaca Al-Qur’an kita ini, yang lebih rakus perutnya, lebih pendusta lisannya, dan lebih pengecut ketika bertemu musuh.”
Atau perkataan-perkataan lain yang diucapkan oleh orang-orang yang memperolok-olok.
Seperti perkataan sebagian mereka:
> “Agama kalian ini adalah agama yang kelima.”
Dan perkataan yang lain:
> “Agama kalian ini kacau.”
Dan perkataan orang lain ketika melihat orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran:
> “Telah datang kepada kalian orang-orang agama.”
Maksudnya adalah sebagai bentuk ejekan dan olok-olok terhadap mereka.
Dan perkataan-perkataan semisal itu sangat banyak, sehingga sulit untuk menghitungnya, dan sebagian di antaranya bahkan lebih parah daripada perkataan orang-orang yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut.
Kedua: memperolok-olok secara tidak terang-terangan.
Ini adalah lautan yang tidak bertepi. Misalnya dengan memberikan isyarat menggunakan mata, menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, dan memberikan kedipan atau isyarat dengan tangan ketika Kitab Alloh atau Sunnah Rosululloh ﷺ sedang dibacakan, atau ketika dilakukan amar makruf dan nahi mungkar.
Termasuk dalam hal ini adalah perkataan sebagian mereka:
> “Islam tidak cocok untuk abad kedua puluh, Islam hanya cocok untuk abad pertengahan.”
Dan perkataan mereka bahwa Islam adalah keterbelakangan dan kemunduran.
Mereka juga mengatakan bahwa di dalam Islam terdapat kekerasan dan kebiadaban dalam hukuman hudud dan ta‘zīr.
Mereka mengatakan bahwa Islam menzholimi perempuan dalam hak-haknya, karena Islam membolehkan perceraian dan poligami.
Dan perkataan mereka:
> “Berhukum dengan undang-undang buatan manusia lebih baik bagi manusia daripada berhukum dengan Islam.”
Mereka juga berkata tentang orang yang menyeru kepada tauhid dan mengingkari ibadah kepada kuburan dan tempat-tempat yang diagungkan:
> “Orang ini ekstrem.”
Atau:
> “Dia ingin memecah persatuan kaum muslimin.”
Atau:
> “Orang ini Wahhabi.”
Atau:
> “Ini mazhab yang kelima.”
Dan perkataan-perkataan semisal ini, yang semuanya merupakan celaan terhadap agama dan para pemeluknya serta olok-olok terhadap aqidah yang benar.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Termasuk juga olok-olok mereka terhadap orang yang berpegang teguh kepada salah satu sunnah Rosululloh ﷺ. Misalnya mereka mengatakan:
> “Agama itu bukan pada rambut.”
Sebagai bentuk olok-olok terhadap memelihara jenggot.
Dan ungkapan-ungkapan kurang ajar lainnya yang semisal dengan itu.
---
📗 At-Tauhīd lil-Fauzān, hlm. 59–62.
Telegram: https://t.me/ilmui
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas

0 Comments