✂️ SYIAH DAN KHOWĀRIJ ✂️
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh (w. 1421) berkata:
قال المؤلف: "وَفي أصْحابِ رَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - بَيْنَ الرَّافِضَةِ وَالخَوارِجِ".
الشرح:
- "أصحاب": جمع صاحب، والصحب اسم جمع صاحب، والصاحب: الملازم للشيء.
والصحابي: هو الذي اجتمع بالنبي - صلى الله عليه وسلم - مؤمنًا به ومات على ذلك.
وهذا خاص في الصحابة، وهو من خصائص النبي - صلى الله عليه وسلم -، أن الإنسان يكون من أصحابه، وإن لم يجتمع به إلا لحظة واحدة؛ لكن بشرط أن يكون مؤمنًا به (انظر: "فتح الباري" (٧/ ٤) لابن حجر).
- وأهل السنة والجماعة وسط فيهم بين الرافضة والخوارج.
- فالرافضة: هم الذين يسمَّون اليوم: شيعة، وسموا رافضة، لأنهم رفضوا زيد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي
طالب رضي الله عنه، الذي ينتسب إليه الآن الزيدية؛ رفضوه لأنهم سألوه: ما تقول في أبي بكر وعمر؟ يريدون منه أن يسبهما ويطعن فيهما! ولكنه رضي الله عنه قال لهم: نعم الوزيران وزيرا جدي. يريد بذلك رسول الله - صلى الله عليه وسلم -؛ فأثنى عليهما، فرفضوه، وغضبوا عليه، وتركوه! فسموا رافضة (انظر سبب تسميتهم بالرافضة كتاب: "منهاج السنة" لشيخ الإسلام (١/ ٣٤))!!
هؤلاء الروافض -والعياذ بالله- لهم أصول معروفة عندهم، ومن أقبح أصولهم: الإمامة التي تتضمن عصمة الإمام، وأنه لا يقول خطأ، وأن مقام الإمامة أرفع من مقام النبوة؛ لأن الإمام يتلقى عن الله مباشرة، والنبي بواسطة الرسول، وهو جبريل، ولا يخطئ الإمام عندهم أبدًا، بل غلاتهم يدعون أن الإمام يخلق؛ يقول للشيء: كن. فيكون!!
وهم يقولون: إن الصحابة كفار، وكلهم ارتدوا بعد النبي - صلى الله عليه وسلم -؛ حتى أبو بكر وعمر عند بعضهم كانا كافرين وماتا على النفاق والعياذ بالله، ولا يستثنون من الصحابة إلا آل البيت، ونفرًا قليلًا ممن قالوا: إنهم من أولياء آل البيت.
وقد قال صاحب كتاب "الفصل": "إن غلاتهم كفروا علي بن أبي طالب؛ قالوا: لأن عليًّا أقر الظلم والباطل حين بايع أبا بكر وعمر، وكان الواجب عليه أن ينكر بيعتهما، فلما لم يأخذ بالحق والعدل، ووافق على الظلم؛ صار ظالمًا كافرًا".
- أما الخوارج؛ فهم على العكس من الرافضة؛ حيث إنهم كفروا علي بن أبي طالب، وكفروا معاوية بن أبي سفيان، وكفروا كل من لم يكن على طريقتهم، واستحلوا دماء المسلمين، فكانوا كما وصفهم النبي عليه الصلاة والسلام: "يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرَّمِيَّة" (رواه: البخاري (٦٩٣٠)، ومسلم (١٠٦٦)؛ عن علي رضي الله عنه)، وإيمانهم لا يتجاوز حناجرهم.
فالشيعة غلوا في آل البيت وأشياعهم، وبالغوا في ذلك، حتى إن منهم من ادعى ألوهية علي، ومنهم من ادعى أنه أحق بالنبوة من محمد رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، والخوارج بالعكس.
- أما أهل السنة والجماعة؛ فكانوا وسطًا بين الطائفتين؛
قالوا: نحن ننزل آل البيت منزلتهم، ونرى أن لهم حقين علينا: حق الإسلام والإيمان، وحق القرابة من رسول الله - صلى الله عليه وسلم -. وقالوا: قرابة رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لها الحق علينا، لكن من حقها علينا أن ننزلها منزلتها، وأن لا نغلو فيها. ويقولون في بقية أصحاب الرسول - صلى الله عليه وسلم -: لهم الحق علينا بالتوقير والإجلال والترضي، وأن نكون كما قال الله تعالى: {يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [الحشر: ١٠]، ولا نعادي أحدًا منهم أبدًا؛ لا آل البيت، ولا غيرهم؛ فكل منهم نعطيه حقه؛ فصاروا وسطًا بين جفاة وغلاة.
[ابن عثيمين ,شرح العقيدة الواسطية للعثيمين ,٧٥-٢/٧٤]
Penulis (Syaikhul Islam rohimahulloh) berkata: “Dan dalam menyikapi para sahabat Rosululloh ﷺ, Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah antara kaum Rofidhah dan Khowarij.”
Penjelasan:
Kata أصحاب (ash-haab) adalah bentuk jamak dari صاحب (shoohib). Adapun kata الصحب (ash-shohb) merupakan isim jamak dari kata shoohib. Shoohib adalah orang yang senantiasa menyertai sesuatu.
Adapun sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman kepada beliau, lalu meninggal dunia dalam keadaan demikian.
Hal ini merupakan kekhususan bagi para sahabat Nabi ﷺ. Di antara keistimewaan Nabi ﷺ adalah seseorang dapat menjadi sahabat beliau meskipun hanya bertemu dengan beliau selama sesaat saja, tetapi dengan syarat bahwa orang tersebut beriman kepada beliau. [Lihat Fathul Bari, jilid 7, halaman 4, karya Ibnu Hajar.]
Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di tengah-tengah dalam menyikapi para sahabat Nabi, antara kaum Rofidhah dan Khawarij.
Kaum Rofidhah: Mereka adalah orang-orang yang pada zaman sekarang disebut sebagai Syi'ah. Mereka dinamakan Rofidhah karena mereka menolak Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنهما, yang kepadanya kelompok Zaidiyah menisbatkan diri mereka hingga sekarang.
Mereka menolaknya karena mereka bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?” Mereka menginginkan agar Zaid mencela dan menjelek-jelekkan keduanya.
Namun, Zaid رضي الله عنه berkata kepada mereka, “Sebaik-baik dua menteri adalah dua menteri kakekku.”
Yang dimaksud dengan kakeknya adalah Rosululloh ﷺ. Dengan perkataan tersebut, Zaid memuji Abu Bakar dan Umar. Maka mereka pun menolaknya, marah kepadanya, dan meninggalkannya. Oleh karena itulah mereka dinamakan Rofidhah. [Lihat sebab penamaan mereka sebagai Rofidhah dalam kitab Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jilid 1, halaman 34.]
Kaum Rofidhah ini — kita berlindung kepada Alloh darinya — memiliki prinsip-prinsip yang telah dikenal di kalangan mereka. Di antara prinsip mereka yang paling buruk adalah masalah imamah (kepemimpinan imam), yang mengandung keyakinan bahwa imam itu maksum, yakni terpelihara dari kesalahan, sehingga ia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang salah.
Mereka juga meyakini bahwa kedudukan imamah lebih tinggi daripada kedudukan kenabian. Hal itu karena menurut mereka, imam menerima wahyu secara langsung dari Alloh, sedangkan nabi menerimanya melalui perantaraan seorang rosul, yaitu Jibril.
Menurut mereka, imam sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan, orang-orang ekstrem di antara mereka mengklaim bahwa imam dapat menciptakan sesuatu. Ia berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” Maka sesuatu itu pun terjadi!!
Mereka juga mengatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang kafir dan bahwa mereka semua murtad setelah Nabi ﷺ. Bahkan, menurut sebagian kelompok mereka, Abu Bakar dan Umar juga kafir dan meninggal dunia dalam keadaan munafik — kita berlindung kepada Alloh dari perkataan tersebut.
Mereka tidak mengecualikan seorang pun dari kalangan sahabat, kecuali Ahlul Bait dan sejumlah kecil orang yang mereka katakan sebagai para wali Ahlul Bait.
Penulis kitab Al-Fashl telah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang ekstrem di antara mereka mengafirkan Ali bin Abi Tholib. Mereka berkata, ‘Hal itu karena Ali membenarkan kezaliman dan kebatilan ketika membaiat Abu Bakar dan Umar. Padahal, yang wajib baginya adalah mengingkari baiat kepada keduanya. Ketika ia tidak mengambil sikap berdasarkan kebenaran dan keadilan serta menyetujui kezaliman, ia pun menjadi orang zalim lagi kafir.’”
Adapun kaum Khowarij, mereka berada di sisi yang berlawanan dengan kaum Rofidhah. Mereka mengafirkan Ali bin Abi Tholib, mengafirkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, dan mengafirkan setiap orang yang tidak mengikuti jalan mereka.
Mereka menghalalkan darah kaum muslimin. Oleh karena itu, keadaan mereka sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi ﷺ:
“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus hewan buruan.”
Keimanan mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (no. 6930) dan Muslim (no. 1066), dari Ali رضي الله عنه.]
Dengan demikian, kaum Syi'ah bersikap berlebihan terhadap Ahlul Bait dan para pengikut mereka. Mereka melampaui batas dalam hal tersebut. Bahkan, di antara mereka ada yang mengklaim bahwa Ali adalah sesembahan, dan ada pula yang mengklaim bahwa Ali lebih berhak menjadi nabi daripada Muhammad, Rosululloh ﷺ. Adapun kaum Khawarij, mereka berada pada sisi yang berlawanan.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka berada di tengah-tengah antara kedua kelompok tersebut.
Mereka berkata, “Kami menempatkan Ahlul Bait sesuai dengan kedudukan mereka yang semestinya. Kami memandang bahwa mereka memiliki dua hak yang wajib kami tunaikan: hak Islam dan keimanan, serta hak kekerabatan mereka dengan Rosululloh ﷺ.”
Mereka juga berkata, “Kerabat Rosululloh ﷺ memiliki hak atas kami. Akan tetapi, termasuk hak mereka yang wajib kami tunaikan adalah menempatkan mereka sesuai dengan kedudukan mereka yang semestinya dan tidak bersikap berlebihan terhadap mereka.”
Adapun mengenai para sahabat Rosululloh ﷺ yang lainnya, Ahlus Sunnah mengatakan bahwa mereka memiliki hak atas kita, yaitu hak untuk dihormati, dimuliakan, dan didoakan agar mendapatkan keridhoan Alloh.
Kita juga harus bersikap sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh Ta'ala:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Wahai Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10)
Kita tidak boleh memusuhi seorang pun dari mereka, baik Ahlul Bait maupun selain mereka. Setiap orang dari mereka kita berikan haknya masing-masing.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah antara dua kelompok: kelompok yang bersikap meremehkan dan kelompok yang bersikap berlebihan.
📙 Syarh Al-Aqidah Al-Washithiyah, jilid 2, halaman 74–76.
Telegram: https://t.me/ilmui
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas

0 Comments