بسم الله الرحمٰن الرحيم
🌊 UDZUR-UDZUR (ALASAN-ALASAN YANG DIBENARKAN) UNTUK TIDAK BERPUASA 🌊
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh (w: 1421) ditanya:
سئل فضيلة الشيخ - رحمه الله تعالى -: عن الأعذار المبيحة للفطر؟
فأجاب فضيلته بقوله: الأعذار المبيحة للفطر: المرض والسفر كما جاء في القرآن الكريم، ومن الأعذار أن تكون المرأة حاملاً تخاف على نفسها، أو على جنينها، ومن الأعذار أيضاً أن تكون المرأة مرضعاً تخاف إذا صامت على نفسها، أو على رضيعها، ومن الأعذار أيضاً أن يحتاج الإنسان إلى الفطر لإنقاذ معصوم من هلكة، مثل أن يجد غريقاً في البحر، أو شخصاً بين أماكن محيطة به فيها نار، فيحتاج في إنقاذه إلى الفطر، فله حينئذ أن يفطر وينقذه، ومن ذلك أيضاً إذا احتاج الإنسان إلى الفطر للتقوي على الجهاد في سبيل الله، فإن ذلك من أسباب إباحة الفطر له، لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال لأصحابه في غزوة الفتح: «إنكم ملاقو العدو غداً والفطر أقوى لكم فأفطروا» فإذا وجد السبب المبيح للفطر وأفطر الإنسان به فإنه لا يلزمه الإمساك بقية ذلك اليوم، فإذا قدر أن شخصاً قد أفطر لإنقاذ معصوم من هلكة فإنه يستمر مفطراً ولو بعد إنقاذه، لأنه أفطر بسبب يبيح له الفطر، فلا يلزمه الإمساك حينئذ، لكون حرمة ذلك اليوم قد زالت بالسبب المبيح للفطر، ولهذا نقول بالقول الراجح في هذه المسألة: إن المريض لو برىء في أثناء النهار وكان مفطراً، فإنه لا يلزمه الإمساك، ولو قدم المسافر أثناء النهار إلى بلده وكان مفطراً فإنه
لا يلزمه الإمساك، ولو طهرت الحائض في أثناء النهار فإنه لا يلزمها الإمساك، لأن هؤلاء كلهم أفطروا بسبب مبيح للفطر، فكان ذلك اليوم في حقهم ليس له حرمة صيام؛ لإباحة الشرع الإفطار فيه، فلا يلزمهم الإمساك.
---
Syaikh yang mulia ditanya — semoga Allah merahmatinya — tentang udzur-udzur yang membolehkan berbuka (tidak berpuasa)?
Beliau menjawab:
Udzur-udzur (Alasan-alasan) yang membolehkan berbuka adalah sakit dan safar (perjalanan) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang mulia.
Termasuk udzur (alasan) juga apabila seorang wanita sedang hamil dan khawatir terhadap dirinya atau terhadap janinnya. Termasuk udzur juga apabila seorang wanita menyusui dan khawatir apabila ia berpuasa akan membahayakan dirinya atau bayinya yang disusui.
Termasuk udzur juga apabila seseorang membutuhkan berbuka untuk menyelamatkan jiwa yang dijaga dari kebinasaan. Misalnya seseorang menemukan orang yang tenggelam di laut, atau seseorang berada di tempat-tempat yang dikelilingi api, sehingga untuk menyelamatkannya ia perlu berbuka. Maka ketika itu ia boleh berbuka dan menyelamatkannya.
Termasuk juga apabila seseorang membutuhkan berbuka untuk menguatkan diri dalam berjihad di jalan Allah, maka itu termasuk sebab yang membolehkan ia berbuka. Karena Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya pada Perang Fathu Makkah:
“Sesungguhnya kalian besok akan menghadapi musuh, dan berbuka itu lebih menguatkan kalian, maka berbukalah.”
Apabila terdapat sebab yang membolehkan berbuka lalu seseorang berbuka karenanya, maka tidak wajib baginya untuk menahan diri (imsak) pada sisa hari tersebut.
Jika misalnya seseorang berbuka untuk menyelamatkan jiwa yang dijaga dari kebinasaan, maka ia tetap dalam keadaan berbuka meskipun setelah orang itu berhasil diselamatkan, karena ia berbuka dengan sebab yang membolehkan baginya berbuka. Maka tidak wajib baginya untuk menahan diri ketika itu, karena kehormatan hari tersebut bagi dirinya telah hilang dengan adanya sebab yang membolehkan berbuka.
Oleh karena itu, dalam masalah ini kami mengambil pendapat yang rajih (lebih kuat):
Jika orang sakit sembuh di tengah hari sementara ia sebelumnya telah berbuka, maka tidak wajib baginya imsak.
Jika seorang musafir tiba di negerinya pada siang hari sementara ia sebelumnya berbuka, maka tidak wajib baginya imsak.
Jika seorang wanita haid menjadi suci di tengah hari, maka tidak wajib baginya imsak.
Karena mereka semua berbuka dengan sebab yang dibolehkan untuk berbuka, maka hari itu bagi mereka tidak memiliki kehormatan puasa, karena syariat telah membolehkan berbuka pada hari tersebut. Oleh karena itu tidak wajib atas mereka untuk menahan diri.
📚 Majmūʿ Fatāwā wa Rasāʾil Al-Utsaimin, 19/109–110.
Telegram: https://t.me/ilmui
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas

0 Comments