Advertisement

HIKMAH DIRAHASIAKANNYA UMUR DAN HARI KIAMAT

بسم الله الرحمٰن الرحيم


Berkata Ibnul Qoyyim rohimahulloh (w. 751):

ومن حكمته سبحانه ما منعهم من العلم، علمِ السَّاعة ومعرفة آجالهم، وفي ذلك من الحكمة البالغة ما لا يحتاجُ إلى نظر.

فلو عرف الإنسانُ مقدار عمره؛ فإن كان قصيرَ العمر لم يتهنَّأ بالعيش، وكيف يتهنَّأ به وهو يترقَّبُ الموت في ذلك الوقت؟ ! فلولا طولُ الأمل لخرِبَت الدُّنيا، وإنما عمارتهُا بالآمال.

وإن كان طويلَ العمر - وقد تحقَّق ذلك - فهو واثقٌ بالبقاء، فلا يبالي بالانهماك في الشهوات والمعاصي وأنواع الفساد، ويقول: إذا قَرُبَ
الوقتُ أحدثتُ توبةً. وهذا مذهبٌ لا يرتضيه الله تعالي عزَّ وجلَّ من عباده، ولا يقبلُه منهم، ولا يصلُح عليه أحوالُ العالم، ولا يصلُح العالم إلا على هذا الذي اقتضته حكمتُه وسبق في علمه.
فلو أنَّ عبدًا من عبيدك عمل على أن يُسْخِطك أعوامًا ثمَّ يرضيك ساعةً واحدةً إذا تيقَّن أنَّه صائرٌ إليك لم تَقْبَل منه، ولم يفُز لديك بما يفوزُ به من همُّه رضاك.
وكذا سنةُ الله عزَّ وجلَّ أنَّ العبد إذا عاين الانتقال إلى الله تعالي لم تنفعه توبةٌ ولا إقلاع؛ قال تعالى: {وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ} [النساء: ١٨]، وقوله: {فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ} [غافر: ٨٤ - ٨٥].
والله تعالى إنما يغفرُ للعبد إذا كان وقوع الذَّنبَ منه على وجه غلبة الشَّهوة وقوَّة الطَّبيعة، فيُواقِعُ الذَّنبَ مع كراهته له من غير إصرارٍ في نفسه، فهذا تُرجى له مغفرةُ الله وصفحُه وعفوُه؛ لعلمه تعالي بضعفه وغلبة شهوته له، وأنه يرى كلَّ وقتٍ ما لا صبر له عليه، فهو إذا واقع الذَّنبَ
واقعَه مواقعةَ ذليلٍ منكسرٍ خاضعٍ لربِّه خائفٍ منه، يَعْتَلِجُ في صدره شهوةُ النفس الذَّنبَ وكراهةُ الإيمان له؛ فهو يجيبُ داعي النفس تارةً وداعي الإيمان تارات.

فأمَّا من بني أمرَه على أن لا يَعِفَّ عن ذنب، ولا يقدِّم خوفًا ولا يدَع لله شهوةً وهو فَرِحٌ مسرورٌ يضحكُ ظهرًا لبطنٍ إذا ظفر بالذَّنب، فهذا الذي يُخافُ عليه أن يُحال بينه وبين التَّوبة، ولا يوفَّق لها؛ فإنَّه مِنْ معاصيه وقبائحه على نقدٍ عاجلٍ يتقاضاه سلفًا وتعجيلًا، ومِنْ توبته وإيابه ورجوعه إلى الله على دَينٍ مؤجَّلٍ إلى انقضاء الأجل.

وإنما كان هذا الضَّربُ من النَّاس يُحالُ بينهم وبين التَّوبة غالبًا لأنَّ النُّزوع عن اللذَّات والشهوات إلي مخالفة الطَّبع والنفس- والاستمرار على ذلك - شديدٌ على النفس، صعبٌ عليها، أثقلُ من الجبال عليها، ولا سيَّما إذا انضاف إلى ذلك ضعفُ البصيرة، وقلَّةُ النَّصيب من الإيمان، فنفسُه لا تطوِّعُ له أن يبيع نقدًا بنسيئةٍ ولا عاجلًا بآجل، كما قال بعضُ هؤلاء وقد سُئل: أيما أحبُّ إليك درهمٌ اليوم أو دينارٌ غدًا؟ فقال: لا هذا ولا هذا، ولكن ربعُ درهمٍ من أوَّل أمس!

فحرامٌ على هؤلاء أن يوفَّقوا للتَّوبة إلا أن يشاء الله.

فإذا بلغ العبدُ حدَّ الكِبَر، وضَعُف نظرُه، ووَهَت قُواه، وقد أوجبت له تلك الأعمالُ قوَّةً في غيِّه، وضعفًا في إيمانه، صارت كالمَلَكة له بحيثُ لا يتمكَّنُ من تركها؛ فإنَّ كثرة المزاولات تعطي المَلَكات، فتبقى للنفس هيئةٌ راسخةٌ ومَلَكةٌ ثابتةٌ في الغيِّ والمعاصي، وكلَّما صَدَر منه واحدٌ منها أثَّر أثرًا زائدًا على أثر ما قبله، فيقوى الأثران، وهلمَّ جرًّا، فيهجُم عليه الضَّعفُ والكِبَر ووهنُ القوَّة على هذه الحال، فينتقلُ إلى الله بنجاسته وأوساخه وأدرانه لم يتطهَّر للقدوم على الله، فما ظنُّه بربِّه؟ !
ولو أنه تاب وأناب وقت القدرة والإمكان لقُبِلت توبتُه، ومُحِيَت سيِّئاتُه، ولكن حِيلَ بينهم وبين ما يشتهون. ولا شيء أشهى لمن انتقل إلى الله على هذه الحال من التَّوبة، ولكن فرَّط في أداء الدَّين حتى نَفِد المال، ولو أدَّاه وقت الإمكان لقَبِله ربُّه، وسيعلمُ المسوِّفُ المفرِّطُ أيَّ ديَّانٍ ادَّان! وأيَّ غريمٍ يتقاضاه يوم يكونُ الوفاءُ من الحسنات، فإن فَنِيَت فبحملِ السَّيئات!
فبانَ أنَّ من حكمة الله ونِعَمه على عباده أن ستر عنهم مقاديرَ آجالهم، ومبلَغ أعمارهم، فلا يزالُ الكيِّسُ يترقَّبُ الموتَ وقد وضعه بين عينيه، فينكفُّ عمَّا يضرُّه في معاده، ويجتهدُ فيما ينفعُه ويُسَرُّ به عند القُدوم.

[ابن القيم ,مفتاح دار السعادة لابن القيم ط عالم الفوائد ,٨٠٥-٢/٨٠٢]

HIKMAH DIRAHASIAKANNYA UMUR DAN HARI KIAMAT



Di antara hikmah-Nya سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia tidak memberikan kepada mereka pengetahuan tentang waktu terjadinya Kiamat dan pengetahuan tentang batas umur mereka. Dalam hal tersebut terdapat hikmah yang sangat besar, yang tidak membutuhkan penelitian yang panjang untuk memahaminya.

Seandainya seseorang mengetahui berapa lama umurnya, maka jika umurnya pendek, ia tidak akan dapat menikmati kehidupannya dengan tenang. Bagaimana mungkin ia dapat menikmatinya sementara ia terus menanti-nanti kematian pada waktu tersebut?! Seandainya bukan karena panjangnya angan-angan, niscaya dunia akan rusak. Sesungguhnya kemakmuran dan berlangsungnya kehidupan dunia ini hanyalah dengan adanya angan-angan.

Adapun jika umurnya panjang—dan hal itu telah diketahui—maka ia akan merasa yakin bahwa dirinya masih akan tetap hidup. Akibatnya, ia tidak peduli untuk tenggelam dalam berbagai syahwat, kemaksiatan, dan berbagai macam kerusakan. Ia berkata, “Jika waktunya sudah dekat, aku akan bertaubat.” Ini adalah suatu cara berpikir yang tidak diridhoi oleh Alloh تعالى عزَّ وجلَّ dari hamba-hamba-Nya dan tidak Dia terima dari mereka. Keadaan dunia pun tidak akan menjadi baik dengan cara seperti itu. Dunia tidak akan menjadi baik kecuali dengan keadaan yang telah dituntut oleh hikmah-Nya dan telah terdahulu dalam ilmu-Nya.

Seandainya salah seorang budak dari budak-budakmu berbuat sesuatu yang membuatmu murka selama bertahun-tahun, kemudian ia berusaha membuatmu ridho hanya selama satu jam, ketika ia telah yakin bahwa dirinya akan kembali kepadamu, niscaya engkau tidak akan menerimanya. Ia juga tidak akan memperoleh di sisimu kedudukan yang diperoleh oleh orang yang seluruh perhatiannya adalah mencari keridhoanmu.

Demikian pula sunnatulloh عزَّ وجلَّ: apabila seorang hamba telah menyaksikan bahwa dirinya akan berpindah menuju Alloh تعالى, maka taubat dan berhentinya dia dari dosa tidak lagi memberikan manfaat kepadanya.

Alloh تعالى berfirman:

«“Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.’”
[An-Nisā’: 18]»

Dan firman-Nya:

«“Maka ketika mereka melihat adzab Kami, mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Alloh saja dan kami kafir terhadap apa yang dahulu kami persekutukan dengan-Nya.’ Maka iman mereka tidaklah berguna bagi mereka ketika mereka telah melihat adzab Kami. Itulah sunnatulloh yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya.”
[Ghofir: 84–85]»

Alloh تعالى hanya mengampuni seorang hamba apabila terjadinya dosa darinya disebabkan oleh kuatnya dorongan syahwat dan kuatnya tabiat dirinya. Ia melakukan dosa dalam keadaan sebenarnya ia membenci dosa tersebut, tanpa adanya keinginan untuk terus-menerus melakukannya dalam dirinya. Orang seperti ini masih diharapkan memperoleh ampunan, penghapusan dosa, dan maaf dari Alloh. Hal itu karena Alloh تعالى mengetahui kelemahannya dan kuatnya syahwat yang menguasai dirinya, serta bahwa setiap waktu ia melihat sesuatu yang dirinya tidak mampu bersabar darinya.

Apabila ia melakukan dosa, ia melakukannya seperti seseorang yang hina, patah hati, tunduk, dan merendahkan diri kepada Robb-nya serta takut kepada-Nya. Di dalam dadanya terjadi pergulatan antara dorongan jiwa yang menginginkan dosa dan iman yang benci terhadap dosa tersebut. Terkadang ia mengikuti seruan hawa nafsunya dan pada waktu-waktu lainnya ia mengikuti seruan iman.

Adapun orang yang membangun urusannya di atas sikap tidak mau menahan diri dari suatu dosa, tidak mendahulukan rasa takut kepada Alloh, dan tidak meninggalkan satu pun syahwat demi Alloh, sedangkan ia dalam keadaan gembira dan bersuka cita—bahkan tertawa lebar ketika berhasil memperoleh dosa—maka orang inilah yang dikhawatirkan akan dihalangi antara dirinya dan taubat, sehingga ia tidak diberi taufik untuk bertaubat.

Sebab, terhadap maksiat dan keburukan yang dilakukannya, ia mengambil keuntungan yang langsung dan segera; ia menuntutnya sebagai pembayaran tunai dan segera. Sedangkan taubatnya, kembali kepada Alloh, dan pulangnya kepada-Nya ia jadikan seperti utang yang pembayarannya ditangguhkan sampai habis masa hidupnya.

Orang-orang seperti ini biasanya dihalangi dari taubat karena (pilihan untuk) meninggalkan kelezatan dan syahwat demi menyelisihi tabiat dan hawa nafsu—serta terus-menerus bertahan dalam keadaan tersebut—merupakan sesuatu yang sangat berat bagi jiwa dan sangat sulit baginya. Hal itu lebih berat daripada gunung bagi dirinya.

Terlebih lagi apabila ditambah dengan lemahnya pandangan hati dan sedikitnya bagian yang ia miliki dari iman. Jiwanya tidak akan mendorongnya untuk menukar sesuatu yang tunai dengan sesuatu yang tertunda, atau menukar sesuatu yang segera dengan sesuatu yang ditangguhkan.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang seperti ini ketika ditanya:

“Mana yang lebih engkau sukai: satu dirham hari ini atau satu dinar besok?”

Ia menjawab:

“Tidak yang ini dan tidak pula yang itu. Akan tetapi, seperempat dirham sejak awal dua hari yang lalu!”

Maka haram bagi orang-orang seperti ini untuk mendapatkan taufik menuju taubat, kecuali jika Alloh menghendakinya.

Apabila seorang hamba telah mencapai usia lanjut, penglihatannya telah melemah, dan kekuatannya telah menjadi rapuh, sementara berbagai perbuatan tersebut telah memberikan kepadanya kekuatan dalam kesesatannya dan kelemahan dalam imannya, maka perbuatan-perbuatan itu menjadi seperti suatu kebiasaan yang melekat kuat pada dirinya, sehingga ia tidak mampu meninggalkannya. Sebab, banyaknya seseorang melakukan suatu perbuatan akan membentuk suatu kebiasaan dan kemampuan yang melekat dalam dirinya.

Akhirnya, jiwa memiliki keadaan yang mengakar kuat dan kebiasaan yang kokoh dalam kesesatan dan kemaksiatan. Setiap kali salah satu dari kemaksiatan tersebut muncul darinya, kemaksiatan itu memberikan pengaruh tambahan di atas pengaruh yang telah ditimbulkan oleh kemaksiatan sebelumnya. Dengan demikian, kedua pengaruh tersebut semakin kuat, dan demikianlah seterusnya.

Kemudian kelemahan, usia lanjut, dan lemahnya kekuatan menyerangnya dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, ia berpindah menghadap Alloh dengan membawa kenajisan, kotoran, dan noda-noda dosa yang ada pada dirinya. Ia tidak membersihkan dirinya untuk menghadap dan datang kepada Alloh. Lalu, apa yang ia sangkakan kepada Robb-nya?!

Seandainya ia bertaubat dan kembali kepada Alloh ketika masih memiliki kemampuan dan kesempatan, niscaya taubatnya akan diterima dan dosa-dosanya akan dihapuskan. Akan tetapi, antara mereka dan apa yang mereka inginkan telah dihalangi.

Tidak ada sesuatu yang lebih diinginkan oleh orang yang berpindah menghadap Alloh dalam keadaan seperti ini selain taubat. Namun, ia telah menyia-nyiakan pembayaran utangnya hingga hartanya habis. Seandainya ia membayarnya ketika masih memiliki kesempatan, niscaya Robb-nya akan menerimanya.

Orang yang suka menunda-nunda dan menyia-nyiakan kewajiban akan mengetahui, siapakah pemberi utang yang telah ia berutang kepadanya! Dan siapakah pihak yang menagih utangnya pada hari ketika pembayaran dilakukan dengan amal-amal kebaikan; apabila kebaikan-kebaikan itu telah habis, maka pembayarannya dilakukan dengan memikul dosa-dosa!

Maka menjadi jelas bahwa di antara hikmah Alloh dan nikmat-Nya kepada para hamba-Nya adalah bahwa Dia menyembunyikan dari mereka ketentuan ajal mereka dan batas umur mereka.

Dengan demikian, orang yang cerdas senantiasa mengantisipasi kematian dan meletakkannya di hadapan kedua matanya. Karena itu, ia menahan diri dari segala sesuatu yang membahayakannya di kehidupan akhiratnya, dan ia bersungguh-sungguh melakukan segala sesuatu yang bermanfaat baginya dan yang akan membuatnya bahagia ketika menghadap dan datang kepada Alloh.

📒 [Miftāḥ Dāris-Sa‘ādah, 2/802-805]

#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas





Telegram: https://t.me/ilmui WA: https://whatsapp.com/channel/0029VaALfMAGJP8PEIsVk33P https://il-mui.blogspot.com #free_share, #Without_logo, #without_asking_for_donation, #without_foundation

Post a Comment

0 Comments