💎 BERSIKAP PERTENGAHAN DALAM AGAMA 💎
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh (w. 1421) ditanya:
وسئل - جزاه الله عن الإسلام والمسلمين خيرا - عن المراد بالوسط في الدين؟
فأجاب بقوله: الوسط في الدين أن لا يغلو الإنسان فيه فيتجاوز ما حد الله - عز وجل - ولا يقصر فيه فينقص عما حد الله - سبحانه وتعالى -.
الوسط في الدين أن يتمسك بسيرة النبي، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والغلو في الدين أن يتجاوزها، والتقصير أن لا يبلغها.
مثال ذلك، رجل قال: أنا أريد أن أقوم الليل ولا أنام كل الدهر؛ لأن الصلاة من أفضل العبادات فأحب أن أحيي الليل كله صلاة فنقول: هذا غال في دين الله وليس على حق، وقد وقع في عهد النبي، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مثل هذا، «اجتمع نفر فقال بعضهم: أنا أقوم ولا أنام، وقال الآخر: أنا أصوم ولا أفطر، وقال الثالث: أنا لا أتزوج النساء، فبلغ ذلك النبي، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال، عليه الصلاة والسلام: " ما بال أقوامٍ يقولون كذا وكذا أنا أصوم وأفطر، وأقوم، وأنام، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني "» فهؤلاء غلوا في الدين وتبرأ منهم الرسول، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لأنهم رغبوا عن سنته، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، التي فيها صوم وإفطار، وقيام ونوم، وتزوج نساء.
أما المقصر: فهو الذي يقول: لا حاجة لي بالتطوع فأنا لا أتطوع وآتي بالفريضة فقط، وربما أيضا يقصر في الفرائض فهذا مقصر.
والمعتدل: هو الذي يتمشى على ما كان عليه الرسول، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وخلفاؤه الراشدون.
مثال آخر: ثلاثة رجال أمامهم رجل فاسق، أحدهم قال: أنا لا أسلم على هذا الفاسق وأهجره وأبتعد عنه ولا أكلمه.
والثاني يقول: أنا أمشي مع هذا الفاسق وأسلم عليه وأبش في وجهه وأدعوه عندي وأجيب دعوته وليس عندي إلا كرجل صالح.
والثالث يقول: هذا الفاسق أكرهه لفسقه وأحبه لإيمانه ولا أهجره إلا حيث يكون الهجر سببا لإصلاحه، فإن لم يكن الهجر سببا لإصلاحه بل كان سببا لازدياده في فسقه فأنا لا أهجره.
فنقول: الأول مفرط غالٍ - من الغلو - والثاني مفرط مقصر، والثالث متوسط.
وهكذا نقول في سائر العبادات ومعاملات الخلق، الناس فيها بين مقصر وغال ومتوسط.
ومثال ثالث: رجل كان أسيرا لامرأته توجهه حيث شاءت لا يردها عن إثم ولا يحثها على فضيلة، قد ملكت عقله وصارت هي القوّامة عليه.
ورجل آخر عنده تعسف وتكبر وترفع على امرأته لا يبالي بها وكأنها عنده أقل من الخادم.
ورجل ثالث وسط يعاملها كما أمر الله ورسوله: {وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ} «لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها خلقا آخر» . فهذا الأخير متوسط والأول غالٍ في معاملة زوجته، والثالث مقصر. وقس على هذه بقية الأعمال والعبادات.
[ابن عثيمين ,مجموع فتاوى ورسائل العثيمين ,٤٣-١/٤٢]
Beliau ditanya—semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas jasa beliau kepada Islam dan kaum muslimin—tentang apa yang dimaksud dengan pertengahan dalam agama?
Beliau menjawab:
Pertengahan dalam agama adalah seseorang tidak bersikap berlebihan dalam agama sehingga melampaui batas yang telah ditetapkan oleh Alloh—‘Azza wa Jalla—dan tidak pula bersikap meremehkan dalam agama sehingga mengurangi dari batas yang telah ditetapkan oleh Alloh—Subhānahu wa Ta‘ālā.
Pertengahan dalam agama adalah berpegang teguh kepada jalan hidup Nabi ﷺ. Adapun berlebihan dalam agama adalah melampaui jalan tersebut, sedangkan bersikap kurang adalah tidak mencapai jalan tersebut.
Sebagai contoh, ada seseorang yang berkata, “Aku ingin melakukan sholat malam dan tidak tidur sepanjang waktu, karena sholat termasuk ibadah yang paling utama. Aku senang menghidupkan seluruh malam dengan sholat.”
Maka kita katakan: orang ini telah berlebihan dalam agama Alloh dan tidak berada di atas kebenaran.
Hal seperti ini pernah terjadi pada masa Nabi ﷺ. “Beberapa orang berkumpul, lalu sebagian dari mereka berkata: ‘Aku akan sholat malam dan tidak akan tidur.’ Yang lain berkata: ‘Aku akan berpuasa dan tidak akan berbuka.’ Dan orang ketiga berkata: ‘Aku tidak akan menikahi wanita.’”
Hal tersebut sampai kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:
«“Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan demikian dan demikian? Aku berpuasa dan berbuka, aku sholat malam dan tidur, dan aku menikahi wanita. Maka barang siapa tidak menyukai sunnahku, dia bukan termasuk golonganku.”»
Mereka ini telah berlebihan dalam agama, dan Rosululloh ﷺ berlepas diri dari sikap mereka, karena mereka tidak menyukai sunnah beliau ﷺ, yang di dalamnya terdapat puasa dan berbuka, shalat malam dan tidur, serta menikahi wanita.
Adapun orang yang bersikap kurang, maka dia adalah orang yang berkata, “Aku tidak membutuhkan ibadah sunnah. Aku tidak akan melakukan ibadah sunnah dan aku hanya akan melaksanakan ibadah wajib.”
Bahkan terkadang dia juga bersikap kurang dalam melaksanakan kewajiban. Maka orang seperti ini adalah orang yang meremehkan dan bersikap kurang.
Adapun orang yang bersikap pertengahan, maka dia adalah orang yang berjalan di atas apa yang dahulu dijalankan oleh Rosululloh ﷺ dan para kholifah beliau yang mendapatkan petunjuk.
Contoh lainnya: Ada tiga orang yang berada di hadapan seorang laki-laki yang fasik.
Orang pertama berkata, “Aku tidak akan mengucapkan salam kepada orang fasik ini. Aku akan meninggalkannya, menjauhinya, dan tidak berbicara dengannya.”
Orang kedua berkata, “Aku akan tetap bergaul dengan orang fasik ini, mengucapkan salam kepadanya, tersenyum di hadapannya, mengundangnya ke rumahku, memenuhi undangannya, dan aku menganggapnya tidak lebih dari seperti seorang laki-laki yang sholeh.”
Orang ketiga berkata, “Aku membenci orang fasik ini karena kefasikannya, tetapi aku mencintainya karena keimanannya. Aku tidak akan meninggalkannya kecuali jika meninggalkannya menjadi sebab untuk memperbaikinya. Jika meninggalkannya bukan menjadi sebab untuk memperbaikinya, bahkan menjadi sebab bertambahnya kefasikannya, maka aku tidak akan meninggalkannya (dan terus menasehatinya hingga mau bertaubat, pentj).”
Maka kita katakan: orang pertama adalah orang yang berlebihan -termasuk dalam sikap berlebih-lebihan (jika tidak didahului dengan nasehat, pentj)- sedangkan orang kedua adalah orang yang terlalu meremehkan dan bersikap kurang. Adapun orang ketiga adalah orang yang pertengahan.
Demikian pula kita katakan dalam seluruh ibadah dan muamalah terhadap manusia. Dalam perkara-perkara tersebut, manusia berada di antara orang yang bersikap kurang, orang yang berlebihan, dan orang yang pertengahan.
Contoh ketiga: Ada seorang laki-laki yang menjadi tawanan istrinya. Istrinya mengarahkannya ke mana saja yang dia kehendaki. Dia tidak mencegah istrinya dari suatu dosa dan tidak pula mendorongnya kepada suatu keutamaan. Istrinya telah menguasai akalnya dan menjadi pihak yang memegang kendali atas dirinya.
Ada laki-laki lain yang bersikap kasar, sombong, dan angkuh terhadap istrinya. Dia tidak memedulikan istrinya, seakan-akan istrinya di sisinya lebih rendah daripada seorang pembantu.
Dan ada laki-laki ketiga yang bersikap pertengahan. Dia memperlakukan istrinya sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya:
«“Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.”»
Dan Nabi ﷺ bersabda:
«“Janganlah seorang mu'min membenci seorang mu'minah. Jika dia membenci suatu akhlak darinya, niscaya dia akan ridho terhadap akhlaknya yang lain.”»
Maka orang yang terakhir ini adalah orang yang pertengahan. Adapun orang pertama berlebihan dalam memperlakukan istrinya, sedangkan orang kedua bersikap kurang.
Dan analogikanlah perkara ini dengan amal-amal dan ibadah-ibadah yang lainnya.
📚 [Majmū‘ Fatāwā wa Rosā’ilil-‘Utsaimīn, 1/42-43]
Telegram: https://t.me/ilmui
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas



0 Comments