FATWA 3 ULAMA SALAF TENTANG ISRO' DAN MI'ROJ
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (w: 728) ditanya:
وَسُئِلَ:
عَنْ " لَيْلَةِ الْقَدْرِ ". وَ " لَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟
فَأَجَابَ:
بِأَنَّ لَيْلَةَ الْإِسْرَاءِ أَفْضَلُ فِي حَقِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْلَةَ الْقَدْرِ أَفْضَلُ بِالنِّسْبَةِ إلَى الْأُمَّةِ فَحَظُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي اخْتَصَّ بِهِ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ مِنْهَا أَكْمَلُ مِنْ حَظِّهِ مِنْ لَيَالِي الْقَدْرِ. وَحَظُّ الْأُمَّةِ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَكْمَلُ مِنْ حَظِّهِمْ مِنْ لَيْلَةِ الْمِعْرَاجِ. وَإِنْ كَانَ لَهُمْ فِيهَا أَعْظَمُ حَظٍّ. لَكِنَّ الْفَضْلَ وَالشَّرَفَ وَالرُّتْبَةَ الْعُلْيَا إنَّمَا حَصَلَتْ فِيهَا لِمَنْ أُسْرِيَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan beliau ditanya
tentang “Lailatul Qadar” dan “Malam Isra’ Nabi ﷺ”, manakah di antara keduanya yang lebih utama?
Maka beliau menjawab:
bahwa malam Isra’ lebih utama khusus bagi Nabi ﷺ, sedangkan Lailatul Qadar lebih utama jika ditinjau dari sisi umat.
Karena bagian (keutamaan) Nabi ﷺ yang dikhususkan baginya pada malam Mi‘raj darinya adalah lebih sempurna daripada bagian beliau dari malam-malam Lailatul Qadar.
Adapun bagian (keutamaan) umat dari Lailatul Qadar adalah lebih sempurna daripada bagian mereka dari malam Mi‘raj, meskipun pada malam Mi‘raj itu mereka juga memiliki bagian yang sangat besar.
Akan tetapi, keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan yang paling tinggi pada malam itu sesungguhnya hanya diperoleh oleh orang yang diperjalankan (Isra’) dengannya, yaitu Nabi ﷺ.
📚 (Majmū‘ al-Fatāwā Ibnu Taimiyah, 25/286)
Syaikh Ibnu Baz rohimahulloh (w: 1421) ditanya:
س: بالنسبة لليلة السابع والعشرين من رجب، من كل عام وليلة النصف من شعبان، تعود المسلمون الاحتفال بهما، وعمل الأكلات الدسمة، وما أشبه ذلك فما رأيكم في هذا؟
ج: هاتان بدعتان: الاحتفال بالنصف من شعبان، والاحتفال بليلة السابع والعشرين من رجب، كلتاهما بدعة ليس عليهما دليل، ولم يثبت عنه صلى الله عليه وسلم، أن ليلة السابع والعشرين من رجب، هي ليلة الإسراء والمعراج، وما جاء فيها من بعض الأحاديث غير صحيح، عند أهل العلم ولو ثبت أنها ليلة المعراج، لم يجز الاحتفال بها، حتى لو ثبتت لأن الرسول صلى الله عليه وسلم، لم يحتفل بها ولا أصحابه، وهم قدوة.
Pertanyaan:
Berkenaan dengan malam tanggal dua puluh tujuh Rajab pada setiap tahun dan malam pertengahan bulan Sya‘ban, kaum muslimin telah terbiasa merayakannya, membuat makanan-makanan yang mewah, dan semisalnya. Maka bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?
Jawaban:
Keduanya adalah bid‘ah: perayaan malam pertengahan Sya‘ban dan perayaan malam tanggal dua puluh tujuh Rajab. Keduanya merupakan bid‘ah yang tidak memiliki dalil, dan tidak ada riwayat yang sahih dari Nabi ﷺ.
Tidak pula terbukti dari beliau ﷺ bahwa malam tanggal dua puluh tujuh Rajab adalah malam Isra’ dan Mi‘raj. Dan apa yang diriwayatkan tentang hal itu dalam sebagian hadis tidak sahih menurut para ulama.
Bahkan seandainya terbukti bahwa malam itu adalah malam Mi‘raj, tetap tidak boleh dirayakan, sekalipun hal itu benar, karena Rasulullah ﷺ tidak pernah merayakannya, begitu pula para sahabat beliau, dan merekalah teladan.
📚 (Fatāwā Nūr ‘alā ad-Darb, karya Ibnu Bāz: 3/104)
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh (w: 1421) berkata:
كذلك رجب يظن بعض الناس أن الإسراء والمعراج كان في رجب في ليلة سبع وعشرين وهذا غلط ولم يصح فيه أثر عن السلف أبداً، حتى إن ابن حزم- رحمه الله- حكى الإجماع على أن الإسراء والمعراج كان في ربيع الأول، ولكن الخلاف موجود حقيقة، فلا إجماع، وأهل التاريخ اختلفوا في هذا على نحو عشرة أقوال، ولهذا قال شيخ الإسلام ابن تيمية- رحمه الله-: كل الأحاديث في ذلك ضعيفة منقطعة مختلفة، لا يعول عليها، إذن ليس المعراج في رجب وأقرب ما يكون أنه في ربيع، هذه. ثانياً: لو فرضنا أنه في رجب وفي ليلة سبع وعشرين هل لنا أن نحدث في هذه الليلة احتفالاً وفي صبيحتها تعطيلاً للأعمال؟ أبداً، فهذه بدعة دينية قبيحة وبدعة منكرة، حتى إن بعض الناس يظنون أن ليلة المعراج أفضل للأمة من ليلة القدر،- والعياذ بالله-، وهذا غلط محض، فلذلك يجب علينا نحن أواخر هذه الأمة أن ننظر إلى ما فعله سلف الأمة قبل ظهور البدع وأن نبين للناس، ومن بان له الحق ولم يتبعه فهو على خطر لقوله تعالى: (وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)) .
Demikian pula bulan Rajab; sebagian orang menyangka bahwa peristiwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi pada bulan Rajab, tepatnya pada malam tanggal dua puluh tujuh. Ini adalah keliru, dan tidak ada satu pun riwayat yang sahih dari para salaf mengenai hal tersebut.
Bahkan Ibnu Hazm رحمه الله menukil adanya ijma‘ bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi pada bulan Rabi‘ul Awwal. Namun kenyataannya terdapat perbedaan pendapat, sehingga tidak ada ijma‘. Para ahli sejarah memang berselisih pendapat tentang hal ini hingga sekitar sepuluh pendapat.
Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Seluruh hadis tentang hal tersebut lemah, terputus, dan saling bertentangan; tidak dapat dijadikan sandaran.”
Maka dengan demikian, Mi‘raj tidak terjadi pada bulan Rajab, dan yang paling mendekati adalah bahwa ia terjadi pada bulan Rabi‘.
Kedua: seandainya kita menganggap bahwa peristiwa itu terjadi pada bulan Rajab dan pada malam tanggal dua puluh tujuh, apakah kita boleh mengadakan perayaan pada malam tersebut dan meliburkan pekerjaan pada pagi harinya? Sama sekali tidak.
Karena hal itu adalah bid‘ah agama yang buruk dan bid‘ah yang mungkar. Bahkan sebagian orang menyangka bahwa malam Mi‘raj lebih utama bagi umat daripada Lailatul Qadar—na‘ūdzu billāh—dan ini adalah kesalahan murni.
Oleh sebab itu, wajib atas kita, generasi akhir umat ini, untuk melihat apa yang dilakukan oleh para salaf umat sebelum munculnya bid‘ah-bid‘ah, dan menjelaskannya kepada manusia. Dan barang siapa telah jelas baginya kebenaran lalu tidak mengikutinya, maka ia berada dalam bahaya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
> “Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dipilihnya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam; dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
📚 (Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il al-‘Utsaimīn, 22/280)
Telegram: https://t.me/ilmui
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan

0 Comments