Advertisement

PUASA DAN HARI RAYA BERSAMA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

بسم الله الرحمٰن الرحيم

👑 PUASA DAN HARI RAYA BERSAMA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN 👑

Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata:

" الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون ".

“Puasa itu adalah pada hari kalian (kaum muslimin) berpuasa, Idul Fitri itu adalah pada hari kalian berbuka, dan Idul Adha itu adalah pada hari kalian berkurban.”

Berkata Syaikh AlAlbany rohimahulloh (w: 1420):

 أخرجه الترمذي (2 / 37 - تحفة) عن إسحاق بن جعفر بن محمد قال:
حدثني عبد الله بن جعفر عن عثمان بن محمد عن أبي هريرة أن النبي صلى الله
عليه وسلم قال: فذكره.
وقال الترمذي: " هذا حديث غريب حسن ".
قلت: وإسناده جيد، رجاله كلهم ثقات، وفي عثمان بن محمد وهو ابن المغيرة
ابن الأخنس كلام يسير.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2/37 – Tuhfah) dari Ishaq bin Ja‘far bin Muhammad, ia berkata:
Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Ja‘far dari ‘Utsman bin Muhammad dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, lalu beliau menyebutkan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata:
“Ini adalah hadits yang gharib lagi hasan.”
Aku (al-Albani) berkata:
Sanadnya baik, seluruh perawinya adalah orang-orang yang tsiqah (terpercaya). Hanya saja pada ‘Utsman bin Muhammad, yaitu Ibnu al-Mughirah bin al-Akhnas, terdapat sedikit pembicaraan (kritik ringan dari sebagian ulama).

Syaikh AlAlbany rohimahulloh juga berkata:

فقه الحديث
قال الترمذي عقب الحديث:
" وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث، فقال: إنما معنى هذا الصوم والفطر مع
الجماعة وعظم الناس ". وقال الصنعاني في " سبل السلام " (2 / 72) :
" فيه دليل على أنه يعتبر في ثبوت العيد الموافقة للناس، وأن المتفرد بمعرفة
يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره، ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار
والأضحية ".
وذكر معنى هذا ابن القيم رحمه الله في " تهذيب السنن " (3 / 214) ، وقال:
" وقيل: فيه الرد على من يقول إن من عرف طلوع القمر بتقدير حساب المنازل جاز
له أن يصوم ويفطر، دون من لم يعلم، وقيل: إن الشاهد الواحد إذا رأى الهلال
ولم يحكم القاضي بشهادته أنه لا يكون هذا له صوما، كما لم يكن للناس ".
وقال أبو الحسن السندي في " حاشيته على ابن ماجه " بعد أن ذكر حديث أبي هريرة
عند الترمذي:
" والظاهر أن معناه أن هذه الأمور ليس للآحاد فيها دخل، وليس لهم التفرد
فيها، بل الأمر فيها إلى الإمام والجماعة، ويجب على الآحاد اتباعهم للإمام
والجماعة، وعلى هذا، فإذا رأى أحد الهلال، ورد الإمام شهادته ينبغي أن لا
يثبت في حقه شيء من هذه الأمور، ويجب عليه أن يتبع الجماعة في ذلك ".
قلت: وهذا المعنى هو المتبادر من الحديث، ويؤيده احتجاج عائشة به على مسروق
حين امتنع من صيام يوم عرفة خشية أن يكون يوم النحر، فبينت له أنه لا عبرة
برأيه وأن عليه اتباع الجماعة فقالت:
" النحر يوم ينحر الناس، والفطر يوم يفطر الناس ".

Fikih Hadits
At-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits tersebut:
“Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, mereka berkata: Sesungguhnya makna hadits ini adalah bahwa puasa dan berbuka itu dilakukan bersama jamaah dan mayoritas manusia.”
Ash-Shan‘ani berkata dalam Subul as-Salām (2/72):
“Di dalamnya terdapat dalil bahwa penetapan hari raya harus mengikuti kesesuaian dengan manusia (jamaah), dan bahwa seseorang yang sendirian mengetahui hari raya melalui rukyat wajib mengikuti orang lain, serta terikat dengan hukum mereka dalam hal sholat, berbuka, dan berkurban.”
Makna ini juga disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim رحمه الله dalam Tahdzīb as-Sunan (3/214). Beliau berkata:
“Dikatakan: di dalam hadist ini terdapat bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa siapa saja yang mengetahui terbitnya bulan dengan perhitungan posisi manzilah-manzilah (hisab), maka boleh baginya berpuasa dan berbuka, sementara orang lain yang tidak mengetahuinya tidak demikian.
Dan dikatakan pula: bahwa jika seorang saksi tunggal melihat hilal, namun qadhi tidak memutuskan berdasarkan kesaksiannya, maka hal itu tidak menjadi puasa baginya, sebagaimana tidak menjadi puasa bagi manusia lainnya.”
Abu al-Hasan as-Sindi berkata dalam Hasyiyah-nya atas Ibnu Majah, setelah menyebutkan hadist Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi:

“Yang tampak jelas adalah bahwa maknanya: perkara-perkara ini tidak berada dalam wewenang individu, dan mereka tidak boleh menyendiri dalam menentukannya. Akan tetapi urusan ini dikembalikan kepada imam dan jamaah.
Dan wajib bagi individu-individu untuk mengikuti imam dan jamaah.
Berdasarkan hal ini, jika seseorang melihat hilal, lalu imam menolak kesaksiannya, maka tidak seharusnya tetap berlaku baginya sesuatu pun dari perkara-perkara ini, dan wajib baginya mengikuti jamaah dalam hal tersebut.”
Aku (al-Albani) berkata:
“Makna inilah yang langsung terlintas dari hadist tersebut, dan makna ini diperkuat oleh hujjah ‘Aisyah ketika beliau berhujjah dengannya kepada Masruq, saat Masruq enggan berpuasa pada hari ‘Arafah karena khawatir itu adalah hari Nahr (Idul Adha). Maka ‘Aisyah menjelaskan kepadanya bahwa pendapat pribadinya tidak dianggap, dan bahwa ia wajib mengikuti jamaah. Lalu beliau berkata:
‘Hari Nahr adalah hari ketika manusia menyembelih, dan Idul Fitri adalah hari ketika manusia berbuka.’”

قلت: وهذا هو اللائق بالشريعة السمحة التي من غاياتها تجميع الناس وتوحيد
صفوفهم، وإبعادهم عن كل ما يفرق جمعهم من الآراء الفردية، فلا تعتبر الشريعة
رأي الفرد - ولو كان صوابا في وجهة نظره - في عبادة جماعية كالصوم والتعبيد
وصلاة الجماعة، ألا ترى أن الصحابة رضي الله عنهم كان يصلي بعضهم وراء بعض
وفيهم من يرى أن مس المرأة والعضو وخروج الدم من نواقض الوضوء، ومنهم من
لا يرى ذلك، ومنهم من يتم في السفر، ومنهم من يقصر، فلم يكن اختلافهم هذا
وغيره ليمنعهم من الاجتماع في الصلاة وراء الإمام الواحد، والاعتداد بها،
وذلك لعلمهم بأن التفرق في الدين شر من الاختلاف في بعض الآراء، ولقد بلغ
الأمر ببعضهم في عدم الإعتداد بالرأي المخالف لرأى الإمام الأعظم في المجتمع
الأكبر كمنى، إلى حد ترك العمل برأيه إطلاقا في ذلك المجتمع فرارا مما قد ينتج
من الشر بسبب العمل برأيه، فروى أبو داود (1 / 307) أن عثمان رضي الله عنه
صلى بمنى أربعا، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه: صليت مع النبي صلى الله
عليه وسلم ركعتين، ومع أبي بكر ركعتين، ومع عمر ركعتين، ومع عثمان صدرا
من إمارته ثم أتمها، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين
متقبلتين، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا! فقيل له: عبت على عثمان ثم صليت
أربعا؟ ! قال: الخلاف شر. وسنده صحيح. وروى أحمد (5 / 155) نحو هذا عن
أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين.
فليتأمل في هذا الحديث وفي الأثر المذكور أولئك الذين لا يزالون يتفرقون في
صلواتهم، ولا يقتدون ببعض أئمة المساجد، وخاصة في صلاة الوتر في رمضان،
بحجة كونهم على خلاف مذهبهم! وبعض أولئك الذين يدعون العلم بالفلك، ممن يصوم
ويفطر وحده متقدما أو متأخرا عن جماعة المسلمين، معتدا برأيه وعلمه، غير
مبال بالخروج عنهم،
فليتأمل هؤلاء جميعا فيما ذكرناه من العلم، لعلهم يجدون
شفاء لما في نفوسهم من جهل وغرور، فيكونوا صفا واحدا مع إخوانهم المسلمين فإن
يد الله مع الجماعة.

Aku (al-Albani) berkata:
Dan inilah yang paling sesuai dengan syariat yang lapang dan toleran, yang termasuk tujuan utamanya adalah mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dapat memecah persatuan mereka berupa pendapat-pendapat individual.

Maka syariat tidak menganggap pendapat pribadi seseorang — meskipun menurut sudut pandangnya pendapat itu benar — dalam ibadah yang bersifat jamaah, seperti puasa dan perayaan (hari raya), serta sholat berjamaah.

Tidakkah engkau melihat bahwa para sahabat rodhiyallahu ‘anhum sebagian mereka sholat di belakang sebagian yang lain, padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah termasuk pembatal wudhu, dan di antara mereka ada yang tidak berpendapat demikian.
Di antara mereka ada yang menyempurnakan sholat ketika safar, dan di antara mereka ada yang mengqoshor. Namun perbedaan pendapat ini dan selainnya tidak menghalangi mereka untuk tetap berkumpul dalam sholat di belakang satu imam, serta menganggap sah sholat tersebut.

Hal itu karena pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih buruk daripada perbedaan dalam sebagian pendapat. Bahkan perkara ini sampai pada sebagian dari mereka pada tingkat tidak menganggap pendapat yang menyelisihi pendapat imam agung (pemimpin utama kaum muslimin) dalam perkumpulan besar, seperti di Mina, hingga meninggalkan pengamalan pendapat pribadinya secara mutlak di tengah komunitas tersebut, demi menghindari keburukan yang mungkin timbul akibat mengamalkan pendapatnya.

Maka Abu Dawud meriwayatkan (1/307) bahwa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina empat rakaat. Lalu ‘Abdullah bin Mas‘ud mengingkarinya seraya berkata:
“Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ dua rakaat, bersama Abu Bakar dua rakaat, bersama ‘Umar dua rakaat, dan bersama ‘Utsman pada awal masa pemerintahannya dua rakaat, kemudian beliau menyempurnakannya. Lalu jalan-jalan kalian pun terpecah-pecah. Sungguh aku berharap seandainya aku mendapatkan dari empat rakaat itu dua rakaat yang diterima.”

Kemudian Ibnu Mas‘ud shalat empat rakaat. Lalu dikatakan kepadanya:
“Engkau mencela ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat rakaat?!”
Ia menjawab:
“Perbedaan itu adalah keburukan.”

Sanadnya shahih. Dan Ahmad meriwayatkan (5/155) yang semisal dengan ini dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhum ajma‘in.

Maka hendaklah merenungkan hadis ini dan atsar yang telah disebutkan orang-orang yang masih terus berpecah-belah dalam shalat-shalat mereka, dan tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, terutama dalam shalat witir di bulan Ramadan, dengan alasan bahwa hal itu menyelisihi mazhab mereka.

Demikian pula sebagian orang yang mengaku memiliki pengetahuan ilmu falak, yang berpuasa dan berbuka sendirian, lebih awal atau lebih lambat dari jamaah kaum muslimin, dengan mengandalkan pendapat dan ilmunya sendiri, tanpa peduli keluar dari kebersamaan mereka.

Maka hendaklah semua mereka merenungkan apa yang telah kami sebutkan dari ilmu ini, semoga mereka menemukan obat bagi apa yang ada di dalam jiwa mereka berupa kebodohan dan keangkuhan, sehingga mereka menjadi satu barisan bersama saudara-saudara muslim mereka, karena tangan Allah bersama jamaah.

📚 [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawa’idiha, AlAlbany 1/443-444]

#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas



PUASA DAN HARI RAYA BERSAMA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN


Post a Comment

0 Comments