Advertisement

MAKNA BERTEBARAN DI MUKA BUMI SETELAH SHOLAT JUMAT

💎 MAKNA BERTEBARAN DI MUKA BUMI SETELAH SHOLAT JUMAT 💎
 
Berkata Imam Al-Bukhory rohimahulloh (w. 256):
 
بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ} [الجمعة: 10]
 
938 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: «كَانَتْ فِينَا امْرَأَةٌ تَجْعَلُ عَلَى أَرْبِعَاءَ فِي مَزْرَعَةٍ لَهَا سِلْقًا، فَكَانَتْ إِذَا كَانَ يَوْمُ جُمُعَةٍ تَنْزِعُ أُصُولَ السِّلْقِ، فَتَجْعَلُهُ فِي قِدْرٍ، ثُمَّ تَجْعَلُ عَلَيْهِ قَبْضَةً مِنْ شَعِيرٍ تَطْحَنُهَا، فَتَكُونُ أُصُولُ السِّلْقِ عَرْقَهُ، وَكُنَّا نَنْصَرِفُ مِنْ صَلاَةِ الجُمُعَةِ، فَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا، فَتُقَرِّبُ ذَلِكَ الطَّعَامَ إِلَيْنَا، فَنَلْعَقُهُ وَكُنَّا نَتَمَنَّى يَوْمَ الجُمُعَةِ لِطَعَامِهَا ذَلِكَ»
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَهْلٍ، بِهَذَا، وَقَالَ: «مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلاَ نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الجُمُعَةِ»
 
[البخاري ,صحيح البخاري ,2/13]
 
 
Bab tentang kalam Alloh Ta‘ala:
“Maka apabila sholat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Alloh.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 10)
 
938 – Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin Abi Maryam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Hazim, dari Sahl bin Sa‘d, ia berkata:
 
“Di antara kami ada seorang wanita yang menanam sayuran silq (sejenis bit/daun bit) pada saluran-saluran air di kebun miliknya. Apabila hari Jumat tiba, ia mencabut akar-akar silq itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah periuk. Kemudian ia menambahkan segenggam gandum yang telah digiling. Maka akar-akar silq itu menjadi lauknya.
 
Kami biasa pulang dari sholat Jumat, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kemudian ia menyuguhkan makanan itu kepada kami, lalu kami memakannya sampai menjilat-jilatnya. Dan kami selalu menantikan hari Jumat karena makanan yang disediakannya itu.”
 
Kemudian telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Maslamah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Hazim, dari ayahnya, dari Sahl dengan hadits yang sama, dan ia menambahkan:
 
“Kami tidak tidur siang (qoilulah) dan tidak makan siang (ghoda’) kecuali setelah sholat Jumat.”
 
📚 Shohih al-Bukhori, 2/13
 
Berkata Ibnu Hajar rohimahulloh (w: 852):
 
(قَوْلُهُ بَابُ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ الْآيَةَ)
أَوْرَدَ فِيهِ حَدِيثَ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تُطْعِمُهُمْ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَقِيلَ أَرَادَ بِذَلِكَ بَيَانَ أَنَّ الْأَمْرَ فِي قَوْلِهِ فَانْتَشِرُوا وَابْتَغُوا لِلْإِبَاحَةِ لَا لِلْوُجُوبِ لِأَنَّ انْصِرَافَهُمْ إِنَّمَا كَانَ لِلْغَدَاءِ ثُمَّ لِلْقَائِلَةِ عِوَضًا مِمَّا فَاتَهُمْ مِنْ ذَلِكَ فِي وَقْتِهِ الْمُعْتَادِ لِاشْتِغَالِهِمْ بِالتَّأَهُّبِ لِلْجُمُعَةِ ثُمَّ بِحُضُورِهَا وَوَهِمَ مَنْ زَعَمَ أَنَّ الصَّارِفَ لِلْأَمْرِ عَنِ الْوُجُوبِ هُنَا كَوْنُهُ وَرَدَ بَعْدَ الْحَظْرِ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يَسْتَلْزِمُ عَدَمَ الْوُجُوبِ بَلِ الْإِجْمَاعُ هُوَ الدَّالُّ عَلَى أَنَّ الْأَمْرَ الْمَذْكُورَ لِلْإِبَاحَةِ وَقَدْ جَنَحَ الدَّاوُدِيُّ إِلَى أَنَّهُ عَلَى الْوُجُوبِ فِي حَقِّ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى الْكَسْبِ وَهُوَ قَوْلٌ شَاذٌّ نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الظَّاهِرِيَّةِ وَقِيلَ هُوَ فِي حَقِّ مَنْ لَا شَيْءَ عِنْدَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ فَأُمِرَ بِالطَّلَبِ بِأَيِّ صُورَةٍ اتَّفَقَتْ لِيَفْرَحَ عِيَالُهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ لِأَنَّهُ يَوْمُ عِيدٍ وَالَّذِي يَتَرَجَّحُ أَنَّ فِي قَوْلِهِ انْتَشِرُوا وَابْتَغُوا إِشَارَةً إِلَى اسْتِدْرَاكِ مَا فَاتَكُمْ مِنَ الَّذِي انْفَضَضْتُمْ إِلَيْهِ فَتَنْحَلُّ إِلَى أَنَّهَا قَضِيَّةٌ شَرْطِيَّةٌ أَيْ مَنْ وَقَعَ لَهُ فِي حَالِ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ وَصَلَاتِهَا زَمَانَ يَحْصُلُ فِيهِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مَنْ أَمْرِ دُنْيَاهُ وَمَعَاشِهِ فَلَا يَقْطَعِ الْعِبَادَةَ لِأَجْلِهِ بَلْ يَفْرَغُ مِنْهَا وَيَذْهَبُ حِينَئِذٍ لِتَحْصِيلَ حَاجَتِهِ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

 
Perkataan beliau:
 
“Bab kalam Alloh عز وجل: ‘Maka apabila sholat telah ditunaikan...’ (ayat).”
 
Di dalam bab ini beliau membawakan hadits Sahl bin Sa‘d tentang kisah seorang wanita yang biasa memberi mereka makan setelah sholat Jumat.
 
Dikatakan bahwa tujuan pembawaan hadits ini adalah untuk menjelaskan bahwa perintah dalam kalam-Nya: “Maka bertebaranlah kamu (di muka bumi) dan carilah karunia Alloh” adalah untuk menunjukkan kebolehan (ibahah), bukan kewajiban.
 
Sebab, kepulangan mereka hanyalah untuk makan siang, kemudian tidur siang (qoilulah), sebagai pengganti dari apa yang terlewatkan dari keduanya pada waktu biasanya, karena mereka sibuk mempersiapkan diri untuk sholat Jumat, lalu menghadirinya.
 
Kelirulah orang yang mengira bahwa yang memalingkan perintah tersebut dari makna wajib adalah karena perintah itu datang setelah adanya larangan.
 
Sebab, hal itu tidak mengharuskan gugurnya makna wajib. Bahkan, ijma’lah yang menunjukkan bahwa perintah yang disebutkan itu bermakna kebolehan.
 
Ad-Dawudi cenderung berpendapat bahwa perintah tersebut tetap wajib bagi orang yang mampu mencari penghasilan. Namun, ini adalah pendapat yang ganjil (syadz), yang dinukil dari sebagian pengikut mazhab Zhohiriyah.
 
Ada pula yang mengatakan bahwa perintah itu berlaku bagi orang yang tidak memiliki apa pun pada hari itu, sehingga ia diperintahkan untuk mencari rezeki dengan cara apa saja yang memungkinkan agar keluarganya dapat bergembira pada hari tersebut, karena hari Jumat adalah hari raya.
 
Pendapat yang lebih kuat menurutku adalah bahwa dalam kalam-Nya: “Bertebaranlah kamu dan carilah” terdapat isyarat untuk mengejar kembali apa yang terlewatkan dari perkara yang dahulu membuat kalian berpaling kepadanya.
 
Dengan demikian, ayat itu bermakna kalimat bersyarat; yakni siapa saja yang pada saat khutbah dan sholat Jumat kehilangan kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang ia butuhkan dalam urusan dunia dan penghidupannya, maka janganlah ia memutus ibadah demi memperoleh hal tersebut.
 
Akan tetapi, hendaklah ia menyelesaikan ibadahnya terlebih dahulu, kemudian setelah itu pergi untuk memenuhi kebutuhannya.
Dan hanya kepada Alloh-lah taufiq itu berasal.
 
📚 Fathul-Bari, 2/427
 
Berkata Ibnu Rojab Alhambaly rohimahulloh ta’ala (w. 795):
 
هذا من أوضح دليل على أنهم كانوا يبكرون إلى الجمعة من أول النهار، فيمنعهم التبكير من القائلة في وقتها، فلا يتمكنون منها إلا بعد الصلاة، ولو كانوا يأتون الجمعة بعد الزوال لم يمتنعوا من القائلة بإتيان الجمعة.
وقد تعلق بذلك مني قول: إن الجمعة كانت تقام قبل زوال الشمس؛ لأنها لا تسمى قائلة إلا قبل الزوال، وكذا الغداء.
وقد مضى في الباب الذي قبله، عن سهل بن سعد، قال: ما كنا نقيل ولا نتغدى إلا بعد الجمعة.
وربما أشار الإمام أحمد إلى ذلك.
وأما الجمهور، فقالوا: سمي نومهم وأكلهم بعد الزوال في الجمعة " قائلة " و" غداء " باعتبار أنه قضاء لما يعتادونه في غير الجمعة من النوم والأكل قبل الزوال، فلما أخروه يوم الجمعة إلى بعد ذلك سمي ذلك باعتبار محله الأصلي الذي أخر عنه.
ويشبهه: تسمية السحور غداء؛ لأنه يقوم مقام الغداء، وإن تقدم عليه في وقته.
ويدل – أيضا – نومهم وغداؤهم بعد الجمعة على أنهم لم يكونوا
كلهم ينتظرون صلاة العصر في المسجد بعد الجمعة؛ فإنهم إن واصلوا الجلوس لانتظار العصر من غير نوم ولا أكل شق عليهم، وحصل لهم ضرر، ويوم الجمعة يوم عيد، فينهي عن إفراده بالصيام، وإن تأخروا لأجل انتظار العصر في المجيء إلى الجمعة فاتهم التبكير إليها، وهو أفضل من انتظار العصر، فكان المحافظة على التبكير إلى الجمعة مع الانصراف عقيب صلاتها أولى.
وكان الإمام أحمد يبكر إلى الجمعة، وينصرف أول الناس -: ذكره الخلال في " الجامع ". والله سبحانه وتعالى أعلم.
 
Ini termasuk dalil yang paling jelas bahwa mereka dahulu berangkat lebih awal menuju sholat Jumat sejak permulaan siang hari. Keberangkatan mereka yang lebih awal itu menghalangi mereka untuk melakukan qoilulah pada waktunya, sehingga mereka tidak dapat melakukannya kecuali setelah sholat selesai.

 
Seandainya mereka datang untuk sholat Jumat setelah tergelincirnya matahari (zawal), niscaya kedatangan mereka untuk sholat Jumat tidak akan menghalangi mereka melakukan qoilulah.
 
Sebagian orang berpegang pada hadits ini untuk mendukung pendapat bahwa sholat Jumat dahulu ditegakkan sebelum tergelincirnya matahari. Sebab, tidur siang tidak dinamakan qoilulah kecuali sebelum zawal. Demikian pula makan siang (ghoda’).
 
Telah disebutkan pada bab sebelumnya dari Sahl bin Sa‘d, ia berkata:
 
“Kami tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah sholat Jumat.”
 
Boleh jadi Imam Ahmad juga mengisyaratkan hal ini.
 
Adapun jumhur ulama, mereka berkata: tidur dan makan mereka setelah zawal pada hari Jumat tetap dinamakan qoilulah dan ghoda’ karena keduanya merupakan pengganti (qadha’) dari kebiasaan mereka pada hari-hari selain Jumat, yaitu tidur dan makan sebelum zawal.
 
Ketika pada hari Jumat keduanya diakhirkan hingga setelah zawal, maka keduanya tetap disebut dengan nama tersebut berdasarkan waktu asalnya yang biasa, meskipun telah diakhirkan dari waktu itu.
 
Hal yang serupa dengan ini adalah penamaan makan sahur sebagai ghoda’ (sarapan/makan pagi), karena sahur menggantikan kedudukan makan pagi, meskipun waktunya lebih dahulu daripada waktu makan pagi yang sebenarnya.
 
Demikian pula, tidur dan makan mereka setelah sholat Jumat menunjukkan bahwa mereka tidak semuanya menunggu sholat Ashar di masjid setelah sholat Jumat.
 
Sebab, jika mereka terus duduk menunggu sholat Ashar tanpa tidur dan tanpa makan, hal itu akan memberatkan mereka dan menimbulkan kesulitan.
 
Padahal hari Jumat adalah hari raya. Oleh karena itu dilarang mengkhususkannya dengan puasa.
 
Selain itu, jika mereka menunda keberangkatan menuju sholat Jumat demi menunggu waktu Ashar, maka mereka akan kehilangan keutamaan datang lebih awal ke sholat Jumat. Padahal datang lebih awal ke sholat Jumat lebih utama daripada menunggu sholat Ashar.
 
Karena itu, menjaga keutamaan berangkat lebih awal menuju sholat Jumat disertai pulang segera setelah selesai sholat Jumat adalah lebih utama.
 
Imam Ahmad dahulu berangkat lebih awal menuju sholat Jumat dan pulang sebagai orang yang paling pertama.
 
Hal ini disebutkan oleh al-Khollal dalam kitab al-Jami‘.
 
Dan Alloh سبحانه وتعالى lebih mengetahui.
 
📚 Fathul-Bari libni Rojab, 8/339–340.
 
Berkata Ibnu Baththol rohimahulloh (w. 449):
 
 باب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: (فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ) [الجمعة 10]
 فيه: سَهْلِ قَالَ: (كَانَتْ فِينَا امْرَأَةٌ تَحْقَلُ عَلَى أَرْبِعَاءَ فِي مَزْرَعَةٍ لَهَا سِلْقًا، فَكَانَتْ إِذَا كَانَ يَوْمُ جُمُعَةٍ، تَنْزِعُ أُصُولَ السِّلْقِ، فَتَجْعَلُهُ فِي قِدْرٍ، ثُمَّ تَجْعَلُ عَلَيْهِ قَبْضَةً مِنْ شَعِيرٍ تَطْحَنُهَا، وَكُنَّا نَنْصَرِفُ مِنْ صَلاةِ الْجُمُعَةِ، فَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا، فَتُقَرِّبُ ذَلِكَ الطَّعَامَ إِلَيْنَا، فَنَلْعَقُهُ، وَكُنَّا نَتَمَنَّى يَوْمَ الْجُمُعَةِ لِطَعَامِهَا ذَلِكَ، ومَا كُنَّا نَقِيلُ وَلا نَتَغَدَّى إِلا بَعْدَ الْجُمُعَةِ) . وترجم له: (باب الْقَائِلَةِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ) . / 60 – وزاد فيه: عَنِ أَنَس قال: (كُنَّا نُبَكِّرُ إِلَى الْجُمُعَةِ ثُمَّ نَقِيلُ) . والفقهاء متفقون على أن معنى قوله تعالى: (فإذا قضيت الصلاة
فانتشروا فى الأرض) [الجمعة 10] ، الإباحة؛ لأنه ورد بعد تقدم أمره بالسعى إلى الصلاة، وترك البيع؛ فأبان بقوله تعالى: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا فى الأرض وابتغوا من فضل الله) [الجمعة: 10] ، زوال ما أوجب عليهم من السعى وترك البيع فى وقت الصلاة، وهذا كقوله تعالى: (وإذا حللتم فاصطادوا) [المائدة: 2] . وموافقة الحديث للترجمة وهو قوله: (كنا ننصرف من الجمعة فنسلم عليها، فتقرب إلينا ذلك الطعام) ، ألا ترى أن انصرافهم بعد الجمعة لم يكن واجبًا عندهم، وإنما كانوا ينصرفون لما ذكره من الغداء، ثم القائلة عوضًا مما فاتهم من ذلك فى وقته، وهذا الحديث بين فى ردَّ قول مجاهد، وأحمد بن حنبل: أن الجمعة تصلى قبل الزوال استدلالاً، بقوله: (وما كنا نقيل إلا بعد الجمعة) ، ولا يسمى بعد الجمعة وقت الغداء، قبان أن قائلتهم وغداءهم بعد الجمعة إنما كان عوضًا مما فاتهم فى وقته من أجل بدارهم بالسعى إلى الصلاة والتهجير إلى الجمعة، وعلى هذا التأويل جمهور الأئمة وعامة العلماء، فلا معنى للاشتغال بما خالفهم، وقد تقدم ما للعلماء فى ذلك من الحجة فى باب وقت الجمعة إذا

زالت الشمس. وقال صاحب (العين) : الأربعاء الجداول واحدها ربيع. وقوله: (تحقل) مأخوذة من الحقل، والحقل: الزرع المتشعب الورق.
 
[ابن بطال ,شرح صحيح البخارى لابن بطال ,2/528]
 
Bab Kalam Alloh Ta’ala:
 
“Maka apabila sholat telah ditunaikan...” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
 
Di dalam bab ini disebutkan hadits Sahl, ia berkata:
 
“Di antara kami ada seorang wanita yang menanam tanaman silq (sejenis sayuran) di beberapa petak saluran air pada kebun miliknya. Apabila tiba hari Jumat, ia mencabut akar-akar silq tersebut, lalu memasukkannya ke dalam periuk. Kemudian ia menambahkan segenggam gandum yang telah digiling. Setelah kami pulang dari sholat Jumat, kami mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan itu kepada kami. Kami pun memakannya hingga menjilat-jilatnya. Kami selalu menantikan hari Jumat karena makanan yang ia sajikan itu. Dan kami tidak tidur siang (qoilulah) dan tidak makan siang kecuali setelah sholat Jumat.”
 
Al-Bukhory membuat bab untuk hadits ini dengan judul:
 
“Bab Tidur Siang Setelah Sholat Jumat.”
 
Dan pada hadits tersebut beliau menambahkan riwayat dari Anas, ia berkata:
 
“Kami biasa berangkat lebih awal menuju sholat Jumat, kemudian tidur siang.”
 
Para ahli fiqih sepakat bahwa makna kalam Alloh Ta’ala:
 
“Maka apabila sholat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi...” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
 
Adalah makna kebolehan (ibahah).
 
Sebab ayat itu datang setelah sebelumnya Alloh memerintahkan untuk bersegera menuju sholat dan meninggalkan jual beli. Maka Alloh menjelaskan dengan kalam-Nya:
 
“Maka apabila sholat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Alloh.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
 
Bahwa kewajiban bersegera menuju sholat dan meninggalkan jual beli pada waktu sholat telah berakhir.
 
Hal ini seperti kalam Alloh Ta’ala:
 
“Dan apabila kamu telah bertahallul, maka berburu lah.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
 
Kesesuaian hadits dengan judul bab tampak pada perkataan Sahl:
 
“Kami pulang dari sholat Jumat lalu mengucapkan salam kepadanya, kemudian ia menyuguhkan makanan itu kepada kami.”
 
Tidakkah engkau melihat bahwa kepulangan mereka setelah sholat Jumat bukanlah suatu kewajiban menurut mereka? Mereka pulang karena alasan makan siang yang telah disebutkan, kemudian tidur siang sebagai pengganti dari apa yang terlewatkan pada waktunya.
 
Hadits ini juga merupakan penjelasan yang terang dalam membantah pendapat Mujahid dan Imam Ahmad bin Hanbal yang berpendapat bahwa sholat Jumat boleh dilaksanakan sebelum tergelincirnya matahari (zawal), dengan berdalil pada ucapan:
 
“Kami tidak tidur siang kecuali setelah sholat Jumat.”
 
Karena waktu setelah sholat Jumat tidak dinamakan waktu makan siang (ghoda’), maka jelaslah bahwa tidur siang dan makan siang mereka setelah sholat Jumat hanyalah sebagai pengganti dari yang terlewatkan pada waktunya disebabkan mereka bersegera menuju sholat dan datang lebih awal ke sholat Jumat.
 
Inilah penafsiran yang dipegang oleh jumhur imam dan mayoritas ulama.
 
Karena itu tidak ada manfaat menyibukkan diri dengan pendapat yang menyelisihi mereka.
 
Penjelasan mengenai dalil-dalil para ulama dalam masalah ini telah disebutkan sebelumnya pada Bab Waktu Sholat Jumat Ketika Matahari Telah Tergelincir.
 
Penulis kitab al-‘Ain berkata:
 
“Al-Arbi‘a’ adalah saluran-saluran air, bentuk tunggalnya adalah robi‘.”
 
Adapun perkataan:
 
“Tahqulu” (تحقل)
 
Berasal dari kata al-haql.
 
Sedangkan al-haql berarti tanaman yang bercabang dan banyak daunnya.
 
📚 Syarh Shohih al-Bukhory libni Baththol, 2/527–528.
 
Berkata Ibnul Mulaqqin rohimahulloh (w. 804):
 
قلتُ: ونظير {وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} [المائدة: 2] {فَكَاتِبُوهُم} -على اختلاف فيه- {فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا}؛ لأنهم كانوا في الجاهلية يحرمون لحوم الضحايا فأعلم بالإباحة، ومنه: {كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ وَلَا تَتَّبِعُوا} [الأنعام: 142]، ومنه قوله: {فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ} [البقرة: 222].

 
وقوله: (كُنَّا نتَمَنَّى يَوْمَ الجُمُعَةِ لِطَعَامِهَا). يحتمل التبرك به والحاجة إليه.
 
وفيه: اصطناع المعروف ومواساة الأنصار وإمساك الرباع؛ ليصونوا بها وجوههم وعدم الاحتقار لشيء من المعروف وإن قل، وفضل الكفاف، وفرح المرء مما يأتيه من الفضل، والتهجير بالجمعة، وزيارة الصالحين و (...) (1) والصالحة.
 
وقوله: (فتكون أصول السلق عُراقه) ضبطه في رواية أبي الحسن بالغين المعجمة وبالفاء، وفي رواية أبي ذر بالعين المهملة والقاف.
 
قيل: معناه: أنها جعلته مكان العرق، وهو اللحم.
 
وقوله: (مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلاَ نتَغَدى إِلَّا بَعْدَ الجُمُعَةِ) فقد سلف الجواب عنه في باب: وقت الجمعة. أي: لاشتغالهم بالغسل والتبكير (2).
 
وفيه: نوم القائلة، وهو مستحب، وقد قَالَ تعالى: {وَحِينَ تَضَعُونَ
[ابن الملقن ,التوضيح لشرح الجامع الصحيح ,7/647]
ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ} [النور: 58] أي: من القائلة.
 
ثم موافقة الحديث للترجمة ظاهر؛ فإن انصرافهم كان لابتغاء الغداء، والقائلة عوض ما فاته من ذلك في وقته، وهذا الحديث رد على قول مجاهد وأحمد أن الجمعة تصلى قبل الزوال استدلالًا بقوله: وما كنا نقيل إلا بعد الجمعة. ولا يسمى بعد الجمعة وقت الغداء، فبان أن قائلتهم وغدائهم بعد الجمعة، إنما كان عوضًا عما فاتهم في وقته من أجل بكورهم، وعلى هذا التأويل جمهور الأئمة وعامة العلماء، وقد أسلفنا ذلك.
 
Aku (Ibnu al-Mulaqqin) berkata:
Yang semisal dengan ayat ini adalah kalam Alloh:
“Dan apabila kamu telah bertahallul maka berburu lah.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
 
Demikian pula kalam-Nya:
“Maka buatlah perjanjian mukatabah dengan mereka.”
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai hukumnya.
 
Demikian pula kalam-Nya:
“Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan.”
 
Karena orang-orang Jahiliyah dahulu mengharamkan daging hewan kurban atas diri mereka sendiri, maka Alloh menjelaskan bahwa hal itu boleh dimakan.
 
Termasuk yang semakna dengannya adalah kalam Alloh:
“Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Alloh kepada kalian dan janganlah kalian mengikuti...” (QS. Al-An’am: 142)
 
Dan juga kalam-Nya:
“Maka apabila mereka telah suci, datangilah mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 222)
 
Perkataan beliau:
“Kami dahulu menantikan hari Jumat karena makanan yang disediakannya.”
 
Kemungkinan maksudnya adalah mengharapkan keberkahan dari makanan tersebut, dan kemungkinan pula karena kebutuhan mereka terhadapnya.
 
Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah:
Anjuran berbuat baik kepada orang lain.
Sikap saling membantu dan memberi dukungan yang dilakukan kaum Anshor.
Menyimpan serta memelihara kebun-kebun dan lahan agar dengannya mereka dapat menjaga kehormatan diri mereka.
Tidak meremehkan sedikit pun bentuk kebaikan meskipun kecil.
Keutamaan hidup berkecukupan (kafaf).
Kegembiraan seseorang terhadap karunia yang datang kepadanya.
Anjuran berangkat lebih awal menuju sholat Jumat (tahjir).
Anjuran mengunjungi orang-orang saleh dan wanita-wanita salehah.
 
Perkataan beliau:
“Maka akar-akar silq itu menjadi ‘uraq-nya.”
Dalam riwayat Abu al-Hasan kata tersebut dibaca dengan huruf ghoin bertitik dan fa’.
Sedangkan dalam riwayat Abu Dzarr dibaca dengan huruf ‘ain tanpa titik dan qaf.
 
Dikatakan bahwa maknanya ialah wanita itu menjadikan akar silq tersebut sebagai pengganti ‘araq, yaitu daging.
 
Perkataan beliau:
“Kami tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah sholat Jumat.”
 
Jawaban terhadap istidlal dengan hadits ini telah dijelaskan pada Bab Waktu Sholat Jumat.
 
Maksudnya adalah karena mereka sibuk dengan mandi dan berangkat lebih awal menuju sholat Jumat.
 
Dalam hadits ini juga terdapat dalil tentang tidur siang (qoilulah), dan hal itu dianjurkan (mustahab).
 
📚 At-Taudhih li Syarhil-Jaami’ish-Shohih, 7/647–648.
 
Berkata Ibnul Jauzy rohimahulloh (w. 597):
 
وَقَوله: وَمَا كُنَّا نقِيل وَلَا نتغدى إِلَّا بعد الْجُمُعَة. القيلولة: النّوم قبل الزَّوَال. وَقد اسْتدلَّ بِهِ أَصْحَابنَا على جَوَاز إِقَامَة الْجُمُعَة قبل الزَّوَال، لِأَن القيلولة والغداء لَا يكونَانِ إِلَّا قبل الزَّوَال. وَقد عضد هَذَا مَا سَيَأْتِي فِي أَفْرَاد البُخَارِيّ من حَدِيث أنس بن مَالك قَالَ: كُنَّا نبكر إِلَى الْجُمُعَة ثمَّ نقِيل بعْدهَا. وَفِي أَفْرَاد مُسلم من حَدِيث جَابر أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَة ثمَّ نَذْهَب إِلَى جمالنا فنريحها حِين تَزُول الشَّمْس.

وَهَذَا عِنْد أَصْحَابنَا وَقت جَوَاز فعل الْجُمُعَة. فَأَما الِاسْتِحْبَاب فَبعد الزَّوَال. وَيُمكن أَن تشبه بِصَلَاة الْعِيد، لِأَن الْجُمُعَة كالعيد. [15] وَلقَائِل أَن يَقُول: أَوْقَات الصَّلَاة مَعْلُومَة مُجْتَمع عَلَيْهَا، فَلَا تغير بِأَمْر مُحْتَمل. وَوجه الِاحْتِمَال أَن قَوْله: مَا كُنَّا نقِيل وَلَا نتغدى: أَي كُنَّا يحرضنا على البكور إِلَى الْجُمُعَة، نؤخر غداءنا وقيلولتنا إِلَى مَا بعد الْجُمُعَة. ويوضحه قَول أنس: كُنَّا نبكر إِلَى الْجُمُعَة ثمَّ نقِيل بعْدهَا. وَقد يَقُول من أخر غداءه إِلَى وَقت الْمسَاء: هَذَا غدائي. [15] ويكشف هَذَا أَن جَمِيع الْأَلْفَاظ: كُنَّا، وَكَانَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم. وَلَفْظَة كَانَ إِخْبَار عَن دوَام الْفِعْل. وَقد قَالَ الْخصم: إِن ذَلِك جَائِز لَا مُسْتَحبّ، فَمَا كَانُوا بالذين يدومون على ترك الِاسْتِحْبَاب. فَأَما قَول جَابر: كُنَّا نصلي الْجُمُعَة ونريح جمالنا حِين تَزُول الشَّمْس،
 
Perkataan beliau:
“Dan kami tidak tidur siang dan tidak makan siang kecuali setelah sholat Jumat.”
 
Qoilulah adalah tidur sebelum tergelincirnya matahari (zawal).
Para ulama mazhab kami berdalil dengan hadits ini atas bolehnya pelaksanaan sholat Jumat sebelum zawal, karena qoilulah dan makan siang (ghoda’) tidak dilakukan kecuali sebelum zawal.
 
Pendapat ini diperkuat oleh hadits yang akan datang dalam riwayat-riwayat yang diriwayatkan secara tersendiri oleh Al-Bukhori, dari hadis Anas bin Malik, ia berkata:
“Kami dahulu berangkat lebih awal menuju salat Jumat, kemudian tidur siang setelahnya.”
 
Demikian pula dalam riwayat yang diriwayatkan secara tersendiri oleh Muslim dari hadits Jabir:
“Nabi ﷺ dahulu melaksanakan sholat Jumat, kemudian kami pergi menuju unta-unta kami lalu mengistirahatkannya ketika matahari mulai tergelincir.”
Menurut ulama mazhab kami, waktu tersebut adalah waktu bolehnya melaksanakan sholat Jumat.
 
Adapun waktu yang lebih dianjurkan (mustahab), maka setelah zawal.
Mungkin pula sholat Jumat diserupakan dengan sholat Id, karena Jumat itu seperti hari raya.
 
Namun ada yang dapat mengatakan:
“Waktu-waktu sholat telah diketahui dan disepakati bersama. Maka tidak boleh diubah hanya dengan dalil yang masih mengandung kemungkinan.”
 
Sisi kemungkinan itu adalah bahwa ucapan:
“Kami tidak tidur siang dan tidak makan siang.”
Maksudnya:
“Kami terdorong untuk berangkat lebih awal menuju sholat Jumat, sehingga kami menunda makan siang dan tidur siang kami sampai setelah sholat Jumat.”
 
Penafsiran ini diperjelas oleh ucapan Anas:
“Kami dahulu berangkat lebih awal menuju sholat Jumat, kemudian tidur siang setelahnya.”
 
Seseorang terkadang menunda makan siangnya hingga waktu sore, tetapi tetap mengatakan:
“Ini adalah makan siangku.”
Hal ini juga menjelaskan bahwa seluruh lafaz seperti:
“Kami dahulu...” (kunnā)
Dan
“Rosululloh ﷺ dahulu...” (kāna Rosūlulloh ﷺ)
Lafaz kāna menunjukkan pemberitaan tentang suatu perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus atau berulang.
 
Padahal pihak yang berseberangan dalam masalah ini mengatakan:
“Pelaksanaan Jumat sebelum zawal itu boleh, tetapi bukan yang dianjurkan.”
Maka bagaimana mungkin para sahabat terus-menerus meninggalkan sesuatu yang lebih dianjurkan?
 
📚 Kasyful-Musykil min Haditsish-Shohihain, 2/277.
 
Telegram: https://t.me/ilmui
WA: https://whatsapp.com/channel/0029VaALfMAGJP8PEIsVk33P
https://il-mui.blogspot.com
#share_gratis, #tanpa_logo, #tanpa_minta_donasi, #tanpa_yayasan, #tanpa_ormas

MAKNA BERTEBARAN DI MUKA BUMI SETELAH SHOLAT JUMAT


 

Post a Comment

0 Comments